Jangan Takut Bilang Cinta

Rasa cinta pasti ada,
Pada makhluk yang bernyawa,
Takkan hilang selamanya,
Hingga akhir, akhir masa.
Renungkanlah…

Begitulah salah satu lirik warisan almarhum Maggy Z, lirik yang benar adanya, dan apa adanya. Telah menjadi rahasia umum bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, pasti ada kisah cintanya. Karena memang, cinta ada karena ada manusia, dan manusia ada karena adanya cinta. Disamping menciptakan rasa cinta itu, Allah juga mengatur bagaimana cara penyalurannya, yaitu dengan jalan pernikahan. Tidak seperti binatang, yang seenaknya saja, slonong sana - slonong sini. Subhanallah… begitu sempurnanya Allah menciptakan dan mengatur semua itu, lalu nikmat-Nya manakah yang masih berani kita dustakan? Bicara tentang cara –yaitu pernikahan-, pernikahan itu sangat sensitif. Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun (mungkin) fase-fase awal pernikahan, mudah membangkitkan perasaan yang kuat, positif maupun negatif -seperti salah paham, salah sangka, GeDe rasa, CaPer, dsb-. Ada dua pemeran utama yang aktif dalam proses menuju pernikahan, yaitu Lelaki dan Perempuan. Pada pihak lelaki, mereka mondar-mandir timur-ke-barat selatan-ke-utara mencari sang pujaan hati yang sesuai di hati, sedangkan pada pihak perempuan –dari musim durian hingga musim rambutan- begitu sabar dan setia menunggu pangeran berkuda putih atau bersepatu putih yang cocok di hati. Bagi pihak lelaki, tidak terlalu khawatir karena fakta sekarang mengatakan bahwa perbandingan jumlah lelaki dan perempuan di dunia adalah 1:5, jadi meski patah hati bila cinta ditolak oleh perempuan yang pertama, 'kan masih ada empat perempuan lain yang sibuk menunggu, jadi ngapain dukun harus bertindak. Lalu bagaimana dengan pihak perempuan?

Tatkala usia terus merayap naik sementara ringkikan kuda putih atau derap langkah sepatu putih tak kunjung terdengar, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang perempuan (baca muslimah, selanjutnya diganti dengan kata ganti ‘muslimah’) yang 'kadung' dijadikan teladan di lingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti sang pangeran.

Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. Terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar "terlihat", berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jikalau mendengar ada laki-laki shalih yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema "lelaki" pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah. Demi Allah, apa yang menghimpit kita (muslimah) sehingga seringkali kita sanggup meneteskan air mata. Kalau mau jujur-jujuran, awalnya adalah karena kita menunda apa-apa yang harus disegerakan, dan mempersulit apa yang seharusnya dimudahkan. Padahal Rasulullah saw telah memberi peringatan kepada kita:
"Bukan termasuk golonganku orang-orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah."
(HR. Imam ath-Thabrani).
"Wahai Ali... ada tiga perkara jangan ditunda-tunda, apabila sholat telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan perempuan apabila telah datang laki-laki yang sepadan meminangnya."
(HR. Imam Ahmad)

Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh di atas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya, jodoh memang ditangan Tuhan, tapi kalau tidak diambil-ambil, kapan dapatnya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan 'caper'.

Menurut Ust. Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jikalau ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang 'sedikit' lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, hamilud dakwah, setidaknya shalatnya benar, akhlaknya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shalih. Artinya, lanjut Ust. Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.

Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari (baca: menunggu) jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita, padahal telah dimotori oleh wanita mulia yaitu Sayyidah Khadijah ra. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.

Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu saat Sayyidah ‘Aisyah ra merasa cemburu, lalu berkata kepada Rasulullah saw, “Bukankah ia hanya seorang wanita tua dan Allah telah memberi gantinya untukmu yang lebih baik daripadanya?” Maka beliau pun marah sampai terguncang rambut depannya. Lalu beliau berkata, “Demi Allah! Ia tidak memberikan ganti untukku yang lebih baik daripadanya. Khadijah telah beriman kepadaku ketika orang-orang masih kufur, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, ia memberikan hartanya kepadaku ketika manusia yang lain tidak mau memberiku, dan Allah memberikan kepadaku anak darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain.” Lalu ‘Aisyah ra berkata dalam hati, “Demi Allah, aku tidak akan lagi menyebut Khadijah dengan sesuatu yang buruk selama-lamanya.”

Pernikahan Rasulullah Muhammad saw dengan Ummul Mukminin Khadijah ra adalah pernikahan yang paling indah dan penuh barakah. Pernikahan yang seagung ini justru berawal dari inisiatif Sayyidah Khadijah ra. Ia menolak menikah dengan raja-raja, para bangsawan, dan para hartawan yang sebelumnya meminangnya, tetapi ia lebih memilih dan menyukai Muhammad yang yatim-piatu. Ia mencari suami yang agung, berkarakter kuat, berkepribadian tinggi, dan berjiwa bersih. Dan semua itu ada pada sosok Muhammad yang Ummi. “Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu denganku, kemulianmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu.” Ungkapan Khadijah ra kepada Muhammad saw. Subhanallah… Allahu Akbar wa Lillahilham.


Senada dengan Ust. Fauzil Adhim, Ust. Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dikhitbah- kepada seorang lelaki shalih yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian. Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah "seberapa pantas dirinya" saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas ke-shalihah-an tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengedepankan akhlak yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang. Sungguh lebih mulia jikalau kita dicintai karena mencintai, bukan mencintai karena dicintai.

Bagi kita (muslimah), kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingan kita untuk menghaluskan jiwa, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jikalau hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jikalau cinta terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Tapi percayalah, insyaALLAH, jikalau sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang lelaki yang memiliki tsaqafah islamiyah yang mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap mujahadah (perjuangan) saudarinya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini, kecuali lelaki yang rendah, dungu, dan tidak memiliki kehormatan kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. Seorang lelaki insyaALLAH akan sangat hormat, setia, dan menaruh kasih sayang mendalam jikalau menerima ajakan agung wanita shalihah untuk menikahi. Namun jikalau terhalang untuk menerima tawaran, insyaALLAH pada diri lelaki tsb akan tumbuh rasa hormat, segan, dan respek terhadapnya.

Sungguh, melalui Mutiara kali ini, saya sangat hormat kepada mereka yang berani bermujahadah. Kepada mereka, saya ingin menyampaikan salam hormat saya. Semoga Allah memberi pertolongan dan ridha-Nya kepada kita semua sampai kelak Allah mengumpulkan di akhirat. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka bersama Sayyidah Khadijah di al-Haudh. Amiin… Allahumma amiin. Yaa Allah, ini hamba-Mu memohon kepada-Mu.


Ukhti...
Janganlah engkau sampai kehilangan jati diri dalam proses penantian itu.
Jikalau ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu.
Jikalau ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu.
Jikalau ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.
Tentunya, lebih baik menawarkan diri pada ikhwan yang tepat.
Ikhwan yang engkau inginkan,
Ikhwan yang engkau idamkan.
Meski ia tidaklah secerdas Ali ra,
tidaklah semulia Muhammad ra,
tidaklah setegar Ibrahim ra.
Yang terpenting, ia adalah pilihan akhir zaman.

Dan ingatlah, yaa Ukhti...
Engkau bukanlah Fatimah ra yang begitu istimewa dalam sederhana,
Bukan Khadijah ra yang begitu sempurna dalam menjaga,
Bukan pula Maryam ra yang begitu mulia dalam aniaya,
Pun bukanlah Hajar ra yang begitu setia dalam sengsara.
Engkau hanyalah seorang wanita biasa,
yang terus berusaha menjadi sholehah seperti Mereka.

Wallahu a’lam bish shawwab…
Belahan Jiwa
lembut belaian kasihmu takkan terganti
tak ada yang bisa sepertimu
aku di sini sendiri berteman sepi
meski terpisah jarak kau dan aku
hanya bayangmu yang menemani
derap langkah perjuanganku

kaulah belahan jiwaku
kaulah curahan hatiku
kaulah lentera hidupku
dan kaulah bidadariku

(Mutiara Hati feat D.O.T Band)
* * * * *
"...Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui..."
(QS an-Nur :32)
"In Yakuunuu Fuqaraa-a, yughnihimullahuhu min fadhlihi", demikian bunyi janji itu. Dan Jika Allah Yang Berjanji, Maka Allah akan Menepati. Innalaha yukhliful mii'aad.

Apa yang membuat kita (ikhwan) ragu-ragu untuk melangkah menyempurnakan separuh agama ini? Sebagian besar menjawab materi sebagai alasannya. Begitu juga yang pernah saya rasakan tempo lalu. Sulit untuk bisa membawa keyakinan akan ayat tadi ke tataran praktis, padahal begitu banyak cerita menakjubkan yang saya dengar tentang pernikahan. Kini, meski masih belum ada ijab-qabul. Saya mengalami apa-apa yang belum pernah saya alami, merasakan apa-apa yang belum pernah saya rasakan, memikirkan apa-apa yang belum pernah saya pikirkan, merenungkan apa-apa yang belum pernah terlintas untuk saya renungkan. Pernikahan adalah salah satu perjanjian kuat (Mitsaqan Ghalidza) dihadapan Allah yang tercantum dalam al-Qur’anul Kariim, dan perlu diketahui, hanya tiga kali al-Qur’an menyebut perkara yang termasuk Mitsaqan Ghalidza, salah satunya adalah pernikahan, dua perkara yang lain tentang Tauhid. Subhanallah…

"Wallahu wasi'un 'aliim", Dan Allah Maha Luas Pemberiannya, begitu bunyi penutup ayat diatas. Begitu luasnya pemberian Allah, sehingga kurs materi tidak akan pernah bisa membelinya. Seorang pendamping hidup adalah pemberian-Nya. Begitu pula semua yang menyertai bidadari itu. Dan jikalau kita ingin meminta... Minta keberkahan-lah yang datang bersama belahan jiwa yang kita pilih itu, karena tampilan shalihah, apalagi sekedar cantik rupawan, takkan pernah cukup untuk memberikan kekuatan agar lentera cita-cita mulia sebuah rumah tangga tetap menyala. Karenanya, semampu kita... pilihlah seorang pasangan hidup dengan ukuran keberkahan, apalagi bila keluarga yang akan kita bangun adalah keluarga Pejuang (tentunya pejuang Syariah dan Khilafah), bukan keluarga Pencari Uang, maka ukuran keberkahan teramat sangat diutamakan. Silahkan tengok lagi kisah pernikahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib ra dengan Sayyidah Fatimah ra, pernikahan yang tidak perlu dipertanyakan lagi keberkahannya. Bisa dikatakan, wanita shalihah belum tentu berkah, tapi wanita berkah pasti shalihah.

Rasulullah Muhammad SAW mengisyaratkan benar pintu-pintu keberkahan itu jangan sampai ditutup oleh keserakahan parameter yang lain.
"Jika ada orang yang kalian ridhai agamanya dan akhlaknya meminang puteri kalian, maka nikahkanlah ia, jika kalian tidak melakukannya, maka fitnah di bumi dan kerusakan besar akan terjadi".
(HR. Imam at-Tirmidzi)
"Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya".
"Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya".
(HR. Imam Ahmad)
"Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah".
(HR. Imam Abu Dawud)
Denyut keberkahan seorang wanita ...
Itulah yang mesti kita telisik di dada ketika cinta menyapa ...
Ada beda yang akan kita rasa, tentang dia ...
Beda itu akan menguatkan azzam kita ...
Menjaga kita tetap dalam logika keimanan ketika menilai harta dan rupa ...

Sobat Mutiara Hati yang dimuliakan Allah... Janji Allah itu pasti, oleh karena itu niatkan keberkahan hadir di setiap keputusan hidup kita, termasuk keputusan memilih dan menemani seseorang dalam jalan perjuangan Izzatul Islam wal Muslimin bisy Syariah wal Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dan serta menuju pertemuan indah dengan-Nya. Allahu Akbar…
Dahsyatnya Cinta… !!!

Pernahkah Anda merasakan
bahwa Anda mencintai seseorang,
meski Anda tahu ia tak sendiri lagi?
Meski Anda tahu cinta anda takkan berbalas,
tapi Anda tetap mencintainya?

Pernahkah Anda merasakan,
bahwa Anda sanggup melakukan apa saja
demi seseorang yang Anda cintai,
meski Anda tahu ia takkan pernah peduli?
Atau pun ia peduli dan mengerti,
tapi ia tetap pergi?

Pernahkah Anda merasakan…
Dahsyatnya Cinta… !!!
tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia,
bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah !

Saya pernah tersenyum kala terluka…
karena Saya yakin,
bahwa Allah pasti akan memberikan yang lebih terbaik untukku.

Saya pernah menangis kala bahagia…
karena Saya khawatir kebahagiaan ini,
hanya sebuah kesemuan yang ditunggangi oleh hawa nafsu belaka.

Saya pernah bersedih kala bersama…
karena Saya takut,
Allah belum tentu menjadikannya untukku.

Dan, Saya juga pernah tertawa kala berpisah…
karena cinta memang tak harus memiliki
-cinta ada dalam jiwa, bukan dalam raga-,
dan serta Saya yakin bahwa
Allah telah menyiapkan cinta yang lain,
yang jauh lebih baik untukku…
Ketika sebuah 'RASA' menyapa

Waktu masih SMA sampai sekarang, sobat-sobat saya menjuluki saya sebagai Pangeran Cinta, Dokter Cinta, Dewa Cinta, Sang Pujangga, Konsultan Cinta, dsb. Saya yang tidak memiliki kualifikasi dan tidak ‘official’ menjadi rujukan sobat-sobat dalam soal cinta dan rumah tangga. Saya dianggap banyak berpengalaman tentang cinta, padahal saya sendiri merasa biasa-biasa saja, karena solusi yang saya berikan kepada mereka adalah solusi Islam –yang mana bila kita memakai Islam sebagai solusi dalam setiap permasalahan hidup kita, maka berbahagialah karena ridha Allah menyertai kita meski solusi yang Islam tawarkan awalnya terasa pahit di mata kita. Tapi yakinlah bahwa solusi Islam akan terasa manis dikemudian hari, bagi kita yang berakal-. Saya senyum-senyum saja saat mendengar anggapan itu, padahal jikalau mereka tahu dan menyadari bahwa ternyata yang hebat itu bukan saya tetapi ISLAM itu sendiri. Subhanallah… Allahu Akbar…

Suatu saat, apa yang menimpa sobat-sobat saya juga menimpa diri saya, yakni bertemu dengan sesosok wanita shalihah yang menurut pandangan saya seTegar dan seDermawan Khadijah ra (insyaAllah). Berbagai masalah dan persepsi dalam pikiran saya, saya muntahkan pada Hati Nurani saya sendiri. Bagaimana memulai ta’arufan, pantaskah saya bersanding dengannya, bagaimana bila nanti ditolak, bagaimana caranya mengkhitbah, bagaimana membangun komitmen, bagaimana menyampaikan ke orang tua tentang rencana saya untuk nikah, dan bagaimana-bagaimana yang lainnya. Yah benar, sebuah RASA sedang menyapa saya. Alhamdulillah… Saya bersyukur atas karunia Allah yang satu ini. Singkat kata, singkat cerita. Hati Nurani dengan bijaksana memperlakukan saya sebagaimana saya memperlakukan siapa-siapa yang mempunyai masalah yang serupa kepada saya. Ibaratnya, saya kena batunya atau dengan kata lain ‘senjata makan tuan’.

“Wanita yang akan kamu pilih itu milik siapa? Milik Allah, ‘kan!”. Hati nurani bertanya dan saya mengangguk.
“Makanya, minta saja pada Allah. Tanyalah pada Allah, apakah dia yang terbaik buat kamu? Mengadulah pada Allah, apakah dia pasangan di dunia dan di akhiratmu? Memohonlah pada Allah, apakah dia akan mendukung dakwahmu memperjuangkan Syariah dan Khilafah? Lalu, serahkanlah semuanya pada Allah, karena Allah Maha Lebih Tahu apa yang terbaik buatmu daripada dirimu sendiri.” Saya hanya bisa mengangguk dan diam sejuta bahasa mendengar petuah Hati Nurani. Lalu Hati Nurani menuntun saya berdoa…

Yaa Allah, Yaa Ilahi...
Engkaulah Pemilik wanita yang akan daku pilih,
Engkaulah Penggenggam hatinya,
Engkaulah yang mampu membuka pintu hatinya.
Yaa Allah, daku hendak menjadikan dia teman dakwahku.
Seperti halnya Khadijah terhadap rasul-Mu.
Daku ingin menikahinya, tapi daku tak tahu siapa dia.

Yaa Allah, Yaa Rabbi…
Seandainya permohonanku ini terbaik buatku di sisi-Mu,
Tunjukkanlah caranya, cara bagaimana daku boleh mengenali dirinya.
Engkau sediakanlah jalan-jalan ke arah untuk mengenali dirinya.
Tetapi jikalau permohonan ini bukan yang terbaik buatku di sisi-Mu,
Maka hilangkanlah rasa ingin hidup bersama dengannya.
Kau lenyapkanlah bayangan dirinya dalam pikiranku.
Dan gantikanlah dengan wanita yang lain,
yang terbaik buatku di mata-Mu.

Amiin… Yaa rabbal ‘alamiin…

Hati Nurani berkata lagi, “Jikalau Allah mengabulkan doamu, pasti Allah akan tunjukkan jalan-jalan untuk mengenali wanita tersebut. Ada saja jalan yang Allah wujudkan agar kamu berdua dapat berkenalan. Dan jikalau memang jodoh, pasti urusannya diberi kemudahan dan kelancaran, meski harus menghadapi tantangan karena hal itu adalah sebuah proses pendewasaan. Yang jelas hati harus yakin bahwa Allah akan menolong jikalau kita memohon kepada-Nya. Dan jikalau yang didapat tidak sesuai dengan yang kita harapkan, jangan putus asa. Bukankah semua itu hasil dari doa kita yang mengatakan bahwa kalau dia yang terbaik, kabulkan doa kita, kalau bukan yang terbaik, jangan dikabulkan. Innalillahi wa inna lillahi raaji'un.”

Sobat Mutiara Hati yang dimuliakan Allah, semua masalah dan kehendak kita datang dari Allah. Allah memberi pilihan kepada kita untuk memilih. Allah tidak zalim dengan membuat pilihan untuk kita. Kita yang memilih sendiri tetapi pilihan yang dipilih adalah masih dalam ruang lingkup pilihan-pilihan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dan setiap pilihan ini ada Qadarnya. Qadarnya juga mempunyai Qadha-Qadha lain di dalamnya.

Apabila kita hendak memilih, kita bertanya pada Allah pilihan yang terbaik di sisi Allah. Setelah kita memilih berdasarkan gerak hati dan juga berupa bisyarah, atau bahkan juga mungkin ada bahasa alam, kita memohon dengan sepenuh hati agar Allah memudahkan Qadar-Qadar ke atas Qadha yang kita telah pilih tadi. Semua pilihan dari Allah, dan kita serahkan kembali pada Allah untuk memberikan petunjuk agung-Nya terhadap pilihan yang terbaik karena kita tidak tahu yang mana yang paling terbaik di sisi Allah buat kita.

Apa-apa yang terjadi setelah kita memilih, percayalah itulah yang terbaik di sisi Allah buat kita karena kita telah berdoa dan bermunajat memohon petunjuk dari-Nya. Inilah maksud dari firman Allah bahwa setiap permohonan pasti dikabulkan oleh Allah. Maka meskipun sesuatu itu buruk dari pandangan kita, insyaAllah pasti banyak kebaikan di ujungnya. Inilah hebatnya Islam yang mengatur hidup dan kehidupan kita dengan begitu sempurnanya, lalu nikmat Tuhan manakah yang masih berani kita dustakan? Give thank’s to Allah, Allahu Akbar…

Pilihan 'yang Terbaik'

Setiap apa yang kita lakukan merupakan pilihan.
Karena hidup adalah pilihan.
Tapi sesuatu yang terbaik menurut kita,
belum tentu terbaik menurut Allah.

Banyak di antara kita mempunyai hajat sebagai contoh ingin menjadi kaya dan kita merasa itu adalah yang terbaik bagi kita. Setiap hari kita bekerja dan berusaha ke arah itu dengan harapan hajat menjadi kaya itu menjadi kenyataan. Kita melakukan berbagai cara untuk memotivasi diri kita ke arah itu. Kita juga melakukan ibadah seperti shalat malam, bersedekah dan sebagainya dengan harapan Allah mengabulkan hajat kita. Pernahkah kita berpikir, banyak doa dan munajat kita kepada Allah yang tidak dikabulkan? Akhirnya amalan ibadah kita menjadi kurang dari hari ke hari karena kita merasa penat melakukan ibadah tetapi hajat masih tak kunjung dikabulkan. Atau mungkin sudah dikabulkan tetapi ibadah kita semakin berkurang karena apa yang kita hajati sudah dikabulkan.

Mengapa begitu?
Di setiap hajat dan keinginan kita, pernahkah kita memohon kepada Allah dan bertanya kepada Allah, apakah yang kita inginkan itu merupakan yang terbaik untuk kita dan terbaik di sisi Allah? Apabila kita memilih untuk menjadi kaya atau sebagainya, apakah keinginan itu terbaik untuk kita dan terbaik di sisi Allah? Apakah ia cuma terbaik bagi kita tetapi sebenarnya tidak terbaik di sisi Allah. Jikalau itu tidak terbaik di sisi Allah, maka sudah pasti apabila kita menjadi kaya, kita akan melupakan Allah. Allah Maha Mengetahui apa yang berlaku di masa depan kita. Namun disebabkan itu adalah pilihan kita dan Allah mengizinkan, maka walaupun perkara itu tidak baik di sisi Allah, kita tetap dapat apa yang kita hajati tetapi malangnya ia bukanlah terbaik di sisi Allah.

Apabila kita kuat beribadah dan berdoa serta memohon kepada Allah dengan harapan hajat kita dikabulkan, maka ibadah kita hanya disebabkan hajat kita. Bukan karena cinta pada Allah. Kita bersusah payah dan bersungguh-sungguh melakukan ibadah tetapi malangnya semua itu bukanlah karena cinta pada Allah tetapi karena hajat kita semata. Oleh karenanya, sebelum kita melakukan sesuatu, memohonlah kepada Allah. Istikharahlah, apakah yang kita lakukan itu terbaik di sisi Allah atau tidak? Apakah segala hajat dan keinginan kita itu terbaik di sisi Allah? Jika tidak, kita mohon agar Allah menghilangkan rasa keinginan itu lalu kita tidak lagi memohonnya.

Memang benar, hidup adalah pilihan. Setiap apa yang kita lakukan merupakan pilihan. Sobat membaca mutiara ini merupakan satu pilihan, ingin dibaca hingga selesai atau tidak pun merupakan satu pilihan. Makan atau tidak, juga pilihan. Segalanya adalah pilihan. Tapi tidak ada siapapun –termasuk diri kita- yang mengetahui masa depan terbaik buat kita, melainkan hanya Allah. Mohonlah yang terbaik dari Allah. Dan setiap yang kita inginkan, pastikan juga terbaik di sisi Allah. Bagaimana cara untuk mengetahui apakah sesuatu itu terbaik di sisi Allah? Caranya adalah KOMUNIKASILAH SETIAP SAAT DENGAN ALLAH. Allah akan menguatkan gerak hati kita dan juga Allah akan memberi bisyarah, atau berupa petunjuk melalui bahasa alam, insyaAllah.

  • Sahabat

    Statistik

  • Berlangganan

    Sahabat yang ingin mutiara-mutiara ini langsung terkirim ke Email Sahabat, silahkan masukkan Email disini:

    Kacamata Dunia

    free counters