Coretan Hati

Gundah hatiku terasa sepi
Lelap dalam rindu dan mimpi
Aku tak bisa terus seperti ini
Masih sendiri dan menyendiri

Dingin terasa dalam hariku
Karena hatiku yang beku
Ingin ku akhiri itu
Dengan mencari potongan tulang rusukku

Ini bukan rintihan
Bukan pula keluhan
Tapi ini sebuah penantian
Entah sampai kapan
Aku bisa bertahan

Penuh syukurku memandang bintang gemintang,
kehadirannya dalam nyata juga bayang.
Meresap dalam angan yang membentang
Sejuknya penuhiku rasa sayang
Memupuk rindu hingga kian merindang
Mengepak asa yang kian mengawang

Langkah kaki penuh harap terpatri
Menapak mengembara di menara hati
Tuk raih sepercik bias cinta sejati
Coba untai segala rasa yang tak terperi
Mengukir hati di pelangi jingga setiap hari

Tak tahu harus bagaimana
Aku lemah dalam masalah cinta
Tak sanggup berpaling darinya
Aku hanya bisa mengimpikannya

Aku ingin kisah ini abadi
Dalam memoriku yang mungkin esok aku sudah tak sendiri
Berteman dengan bidadari
Yang aku sendiri tak ingin ini di akhiri
Hingga bersatu kembali di alam surgawi
Tentang Cinta

Andai kata itu nyata
Kita mungkin tak bisa berkata
Karena hati yang terlalu bahagia
Gembira serasa hidup ini indah tiada tara

Ini bukanlah sekedar cerita
Karena ini adalah realita
Dan bukan pula hanya rasa
Melainkan hati yang berbicara


Kisah ini berawal dari seorang sahabat yg bercerita tentang kisah cintanya kepadaku. Matanya yang mengandung tanda tanya itu adalah duka dan luka. Wajahnya yang mengandung tanda seru itu adalah ceria dan bahagia. Aku bingung, lalu mencari-cari hendak mengetahui isi hatinya bagai rembulan hendak menduga lautan.

"Sahabatku, ada apa denganmu?" tanyaku

"kan kusingkapkan hidupku seluruhnya di muka matamu, sehingga tiada lagi yang tersembunyi atau tertahan, tiada lagi yang perlu dibahas, dan tiada lagi yang perlu diperjelas. Aku telah memilihmu, dan percaya padamu. Itulah sebabnya mengapa tak kau tahu aku." Jawabnya. Aku diam sejuta bahasa untuk mendengar apa yang akan keluar dari lisannya, seperti mendung menunggu hujan.
Jikalau hidupku hanya sebuah permata, akan dapat kupecahkan jadi seratus keping dan kurangkai jadi seutas rantai untuk kukalungkan di lehernya. Jikalau ia hanya sekuntum bunga, bundar dan kecil dan indah, akan dapat kupetik dari batangnya untuk kusematkan di rambutnya. Tapi ia adalah hati, sahabatku. Di manakah pantai dan dasarnya? Di manakah hulu dan hilirnya? Kau takkan pernah tahu batas-batas ini, selama kau belum jadi aku.

Jikalau Kehidupanku hanya sejenak kesenangan, ia akan mengembang jadi senyuman ringan, dan akan dapat kau lihat dan kau baca dalam sekejap. Jikalau ia semata-mata hanya kepedihan, ia akan mencerna menjadi air mata bening mengaca, membiaskan rahasianya yang terdalam tanpa kata. Tapi ia adalah cinta, sahabatku. Kesenangan dan kepedihannya tak terbatas, dan tak ada akhirnya kepapaan dan kemewahannya. Ia dekat padamu seperti hidupmu sendiri, tetapi kau tak pernah dapat mengetahuinya dengan benar-benar benar sebelum menjadi aku.

Yang kurasakan bukanlah nafsu, bukanlah asmara, dan bukanlah dia, melainkan yang kurasakan adalah cinta. Dan aku tidak cinta pada pandangan pertama, melainkan seketika, dan untuk selamanya.
"Sahabatku, sungguh yang mewarnaimu bukan lagi merah muda tetapi jingga". aku menanggapi dengan penuh kekaguman.
Cantik tanpa Kecantikan


Kecantikan, itulah sebuah kata yang dikagumi pria sekaligus wanita. Bila dilihat pertumbuhan Industri kosmetika sebagai barometer, seberapa banyak uang yang dihabiskan untuk menjadi cantik? Sungguh, untuk terlihat cantik tidak bisa dikatakan murah dan mudah, lebih-lebih kalau di dalami lagi perilaku wanita untuk menjadi cantik, atau perilaku pria untuk mendapatkan wanita cantik. Namun, karena wanita (daripada pria) sebagai pelaku aktif, lebih sensitif dalam masalah Kecantikan. Sehingga wanita sinonim dengan kecantikan. Lalu, bagi wanita yang tidak cantik bagaimana?

Setiap yang Allah cipta pasti indah karena Allah itu Maha Indah dan suka pada keindahan. Tuhan tidak mencipta manusia jelek, Tuhan hanya menciptakan wanita dengan kecantikan yang berbeda. Jadi, intinya setiap wanita berhak untuk cantik!

Masalahnya, dimanakah letaknya kecantikan yang sebenarnya pada seorang wanita? Kalau kita tanyakan kepada para lelaki maka sudah pasti kita akan temui pelbagai jawaban. Ada yang merasakan kecantikan wanita itu pada wajah, pada bentuk tubuh, pada kebijaksanaan atau pada tingkah lakunya. Dan bagi yang menyatakan kecantikan pada wajah pun terbagi kepada pelbagai pandangan, ada yang mengatakan kecantikannya terletak pada hidung, pada mata dan sebagainya. Sehingga ada selentingan populer yang berbunyi, 'kecantikan itu relatif, tetapi kejelekan itu absolut'.

Terlepas benar ataukah salah selentingan tersebut, namun sebagai seorang Muslim, kita tentulah ada parameter tersendiri untuk menilai kecantikan. Kita tentunya mengukur kecantikan dengan parameter Islam. Dan tentu saja kecantikan yang menjadi penilaian Islam adalah lebih hakiki dan abadi. Misalnya, kalaulah kecantikan itu hanya terletak pada wajah, wajah itu lambat-laun akan dimakan usia. Ia hanya bersifat sementara. Apabila usia menua, kulit akan berkerut, dan tentu wajah tidak cantik lagi. Jadi ini bukan ukuran kecantikan yang sejati dan abadi.

Oleh karena itu, Mutiara Hati memperkenalkan konsep Cantik tanpa Kecantikan ini untuk engkau wahai Wanita Muslimah, baik yang rupawan maupun pas-pasan, agar menjadi cantik yang benar-benar cantik. Semangat berenang dan menyelam, tapi jangan sampai tenggelam.

Mata menilai kecantikan pada rupa.
Akal menilai pada kecerdasan.
Nafsu menilai pada bentuk tubuh.
Tetapi hati tentulah pada akhlak dan budi pekerti.

Sebagai hamba Allah, kita seharusnya melihat kecantikan selaras dengan penilaian Allah atas keyakinan apa yang dinilai oleh-Nya lebih tepat dan benar-benar benar. Apakah kecantikan yang dimaksudkan itu? Kecantikan yang dimaksudkan ialah kecantikan budi pekerti atau akhlak. Itulah misi utama kedatangan Rasulullah SAW – untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Kecantikan akhlak jika ada pada seseorang, lebih kekal. Inilah kecantikan hakiki yang mengikuti penilaian Allah. Hancur badan dikandung tanah, budi baik di kenang juga. Malah akhlak yang baik juga sangat lebih disukai oleh hati manusia. Contohnya, kalaulah ada orang yang wajahnya saja cantik tetapi akhlaknya buruk, pasti dia akan dibenci dan bahkan dimaki.

Tatkala bunga-bunga layu, buah-buahnya pun bermunculan. Ketika kecantikan luar memudar, seketika itu juga tumbuh kecantikan dari dalam dengan sendirinya. Ini yang bisa menjelaskan orang yang mukanya biasa-biasa saja, tetapi hidupnya memancarkan cahaya-cahaya keteladanan.

Tidak semua orang mudah memahami konsep Cantik tanpa Kecantikan. Terutama mereka yang diperbudak habis-habisan oleh nafsu dan pikiran. Dan sedikit-sedikit meminta data serta fakta empiris. Untaian kalimat indah diatas, hanya akan memperpanjang daftar kebingungan. Namun bagi siapa saja yang terbiasa ber-akhlakul karimah, dan bersahabat akrab dengan Allah, tidak banyak kesulitan yang muncul untuk memahami. Tanpa perlu dipaksa, tanpa perlu mengada-ada, kecantikan muncul dengan sendirinya. Wallahu a'lam...
Curahan Hati

Seakan rasa merayapi bekunya raga,
mengalir dalam nadi – nadi penuh irama,
saat RASA kembali menyapa,
saat DIA kembali tersenyum dengan karunia-Nya.

Terbungkam hatiku dalam baris kata, kala kutatap jingga di ufuk barat dunia. Senja kini telah tutupi cakrawala. Kelabu hati kian hadirkan bulir air mata, karena rasa makin terasa. Mengiris relung hati kian nyata, bayangpun seakan hantui dalam gelapnya indra.

Ada apa...?? Kenapa..?? Mengapa..??
Tanya sama yang mengusai benak rasa, tercipta dari kekhawatiran yang membabi buta.

Yaa Allah, yaa Rabbi...
Jikalau memang telah Engkau catatkan dia tercipta buatku...
Seandainya telah Engkau gariskan dia menjadi bidadariku...
Maka jodohkanlah kami,
Satukanlah hatinya dengan hatiku.
Selipkanlahlah kebahagiaan di antara kami,
Agar kemesraan itu terjadi dan abadi.

Tetapi...
Yaa Allah, yaa Ilahi...
Jikalau memang telah Engkau tetapkan dia bukan Mujahidahku...
Seandainya telah Engkau takdirkan dia bukan Ibu dari anak-anakku...
Bawalah dia pergi jauh dari pandanganku,
Hapuskanlah dia dari ingatanku,
Dan serta periharalah daku dari kekecewaan ini.

Yaa Allah, Yang Maha Mengerti...
Berikanlah daku kekuatan,
Menolak bayangannya jauh sejauh-jauhnya dari lubuk hati,
Hilang bersama senja yang memerah,
Agar daku senantiasa tenang dan senang,
Walaupun tak bersanding dengannya di pelaminan.
Karena ku yakin, Engkau akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik...

Yaa Allah, Yang Maha Cinta...
Ku pasrahkan hidup dan kehidupanku pada Qadla dan Qadhar-Mu.
Cukuplah hanya Engkau yang menjadi pemeliharaku, di dunia dan akhirat...
Dengarkanlah rintihan hati dari hamba-Mu yang dhaif ini,
Dengarkanlah goresan hati dari hamba-Mu yang naif ini,
Jangan Engkau biarkan daku sendirian, di dunia ini maupun di akhirat...
Di tengah-tengah kehidupan yang liberalistik, kapitalistik, dan hedonistik ini...
Banyak hamba-Mu yang terjerumus ke lembah kehinaan,
Tak sedikit hamba-Mu yang terjerembab di lembah kenistaan,
Dengan berbagai macam jalan kemaksiatan, kemungkaran, dan kekufuran...
Maka karuniakanlah daku seorang Mar'atus Shalihah,
Agar daku dan dia bersama-sama membela kemuliaan agama-Mu,
Agar daku dan dia bersama-sama dapat membina kesejahteraan hidup,
Ke jalan yang Engkau ridhai...
Dan karuniakanlah kepadaku keturunan yang shalih dan shalihah,
Keturunan yang siap menjadi mujahid dan mujahidah,
Keturunan yang berani memperjuangkan Syariah dan Khilafah.

Harmoni yang mendayu, menyentuh diri tuk terharu, terdiam seketika kala itu, membisu dalam alunan doa yang merdu, sejenak menyelam lupakan sendu, yang mendera seiring waktu, hempaskanku layaknya angin yang bertiup menderu, hampa yang membelenggu, kini terasa beda dalam kalbu. Aku telah memilihmu, dan percaya padamu.
Maafkan aku...

Hatiku,,,
mentasbihkan doa yang merindu...
Jiwaku,,,
mentakbirkan kata yang membisu...
Nadiku,,,
melagukan kisah yang membiru...

Sunyi... sepi... aku sendiri.
Resahku menepi,
Raguku menyepi,
Sesuatu yang pernah dan terus menguap dalam mimpi,
dan sesuatu itu ku sebut Cinta Sejati.
Cinta sejati yang bersandar pada Cinta Hakiki.

Lidahku kelu,,,
Bibirku beku,,,
Jangan pernah terpikir olehmu,
Bahwa aku tak pernah memikirkanmu.
Aku selalu memikirkanmu,
Meski tak setiap waktu.

Maafkan aku,,,
Bukan maksudku untuk menduakanmu,
Aku menduakanmu bukan tak mencintaimu.
Tapi aku mencintaimu karena aku menduakanmu.
Oleh karena itu,,,
Aku tak kan menuntutmu untuk mencintaiku,
Tapi aku kan selalu menuntunmu untuk mencintai Tuhanku,
Agar dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu,
Meski aku menduakanmu,
Bukan menduakan Tuhanku.
  • Sahabat

    Statistik

  • Berlangganan

    Sahabat yang ingin mutiara-mutiara ini langsung terkirim ke Email Sahabat, silahkan masukkan Email disini:

    Kacamata Dunia

    free counters