Masih (tetap) Menunggu...

Aku pernah takut menulis puisi
Tentang gambaran hati yang begitu bahagia
Atas syukur tiada tara karena kehadirannya

Aku pernah enggan menulis perasaanku
Tentang rasa yang berbeda dari sebelumnya
Yang datang tiba-tiba, buatku seolah menari riang di taman Surga

Aku pernah ragu menulis pikiranku
Tentang bayang yang melekat di benak
Selalu.... meski tak sepenuh waktu

Setiap bait puisi menari-nari dalam diamku
Kunikmati untaian kata dengan senyum terindah
Lalu memanggil angin tuk membawanya terbang bahagia di udara

Setiap rasa beda yang menyatu dalam tiap irama jiwa
Menggelitik hari-hari penuh tawa dan asa
Kupinta keheningan menyimpannya
Lalu ia menyimpannya dengan senang hati dan begitu hati-hati

Ketika bayang itu mengiringi di tiap aktifitasku
Biarkan waktu melukis dengan lukisan terindahnya
Lalu dengan semangat sang waktu melukisnya

Karena sang angin, hening dan waktu lebih memahami segala tentangku
dan kupercaya tuk menjaga rahasiaku

Mengapa?
karena ia belum menjadi milikku...
Karena Ia belum menjadi Qowwamku...
Karena rahasia waktu yang tak dapat di tebak
Karena misteri takdir yang dapat di lacak
Karena aku... masih dan kan tetap menunggu...

Dia...
Yang tiba-tiba hadir dalam hidupku
Membawa keluarga tercintanya ke Istanaku
Mengucap janji terangkai indah tanpa semu
Memberi sebuah penantian indah di sisa waktuku

Yaa Allah...
Teguhkan hati kami...
beri kami kekuatan atas segala ujian dan tantangan yang kan kami hadapi...
Teguhkan Azzam kami...
Untuk memenuhi sunnah Rasul-Mu...
Menggenapkan Dien-Mu...
Serta... demi tertunduknya pandangan ini...
Demi perjuangan dakwah ini...
dan Demi kemuliaan Dien ini...

Yaa Allah...
Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu
dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu
Serta cinta yang dapat mendekatkan aku kepada cinta-Mu.
Apa yang Engkau anugerahkan kepadaku dari apa-apa yang aku cintai,
Maka jadikanlah ia sebagai kekuatan bagiku tentang apa yang Engkau cintai,
Dan apa-apa yang Engkau singkirkan dariku dari apa-apa yang aku cintai,
Maka jadikanlah ia kekosongan bagiku tentang apa yang Engkau cintai.

Yaa Allah...
Jadikanlah cintaku kepada-Mu lebih aku cintai daripada diriku,
keluargaku dan air yang sejuk/dingin (harta).
Amiin... Yaa mujibas sa'iliin...
Cinta & Derita

Saat cinta semakin pudar,
Dan hati menjelma serpihan-serpihan kecil saat prahara terjadi.
Saat ujian demi ujian-Nya terasa menjadi derita untuk ditanggung sendiri,
Dan bahtera rumah tangga semakin oleng saat diterpa badai.
Kemanakah kita harus mencari kekuatan agar hati mampu terus bertasbih,
dan rumah tangga tetap terjaga keutuhan dan keharmonisannya?!?

Ada apa dengan cinta? Untuk apa kita mencinta dan dicintai? Untuk menjawabnya, mari kita pikirkan sebuah analogi, analogi cinta. Pikirkan tentang sebatang pena. Pena dicipta untuk menulis. Selama ia digunakan untuk menulis, selama itulah pena itu berada dalam keadaan selamat dan berguna. Tetapi sekiranya pena itu digunakan untuk memukul, maka ia akan rusak. Mengapa? Pena akan rusak sekiranya ia disalahgunakan dengan tujuan ia diciptakan. Ia diciptakan untuk menulis, bukan memukul. Pena yang disalahgunakan akan rusak. Apabila rusak, ia akan dibuang ke dalam tong sampah. Ketika itu ia tidak dinamakan pena lagi. Ia dinamakan SAMPAH!

Begitulah juga cinta. Cinta diciptakan oleh Allah untuk kita beribadah kepada-Nya. Selama cinta berlandaskan dan bertujuan ibadah, yakni selaras dengan tujuan ia diciptakan, maka selama itu cinta itu akan selamat dan bahagia. Sebaliknya, jika cinta itu diarahkan secara bertentangan dengan tujuan ia diciptakan, maka cinta itu akan musnah dan memusnahkan. Keindahan cinta itu akan pudar dan tercela.

Ada sebuah kisah, kisah nyata. (singkatnya) Ketika itu hiduplah pasangan suami-istri dengan perasaan yang hambar dan tawar. Hidup berumah tangga tanpa cinta umpama kapal yang belayar tanpa angin. Keserasiannya mudah retak. Hanya karena kesalahan yang sedikit, perdebatan mudah terjadi. Keadaan rumah tangganya pada waktu itu boleh diumpamakan sebagai “hidup segan, mati tak mau”.

"Pergi kau dari sini! Aku sudah muak hidup denganmu. Bukannya bahagia yang kudapat, tapi malah derita. Bukannya kamu yang menafkahi keluarga, tapi malah aku. Segera aku belikan surat-surat (maksudnya surat cerai -pen), ceraipun aku tak takut." Kata si istri ke suaminya

Pagi hari yang cerah, bersama kicau burung yang indah. Tak seindah dan secerah anak mereka yang sudah kelas 3 SMA. Ketika sekolah, konsentrasinya pecah, dan cita-citanya pun mulai tak terarah, saat melihat hubungan orang tuanya yang ibarat telur diujung tanduk. Dan ketika pulang sekolah, ia melihat tidak ada satupun pakaian ayahnya yang ada dilemari baju, itu artinya genderang perceraian benar-benar sudah ditabuh (bukan lagi di luar rumah, tapi) di dalam rumah dengan perginya sang ayah ke rumah asalnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa agar orang tuanya bisa harmonis lagi. Pikirannya hampa, dan air matanya terus mengalir. Tanpa berpikir panjang, ia juga mengemasi pakaiannya, berniat pergi juga entah kemana.

Ketika senja mulai terperangkap, waktu itu ibunya sedang keluar, ia pamitan kepada neneknya. "Nenek, saya pergi dulu. Tolong sampaikan ke ibu, bila mau jemput saya, jemputlah bersama ayah" katanya sambil mengecup kening neneknya yang sedang tidur-tiduran tak bisa mencegah cucunya, hanya air mata mengiringi kepergian si cucu.

Hari berganti hari, belum ada tanda-tanda orang tuanya kembali akur. Hanya ibunya sibuk tanya keberadaannya kepada teman-teman sekolahnya. "Kamu ada dimana? Ibumu cari kamu!" tanya salah seorang temannya, ia tak merespon sama sekali. Namun di malam harinya, ia kembali tak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi setalah punya 3 anak? Kalau memang tidak bahagia, kenapa bisa lahir saya sebagai anak pertama?. Akhirnya dia menulis sepucuk surat dengan satu paragraf (+alamat dimana dia tinggal sementara) kepada Ibunya, dan keesokannya harinya dititipkan ke temannya yang dulu tanya-tanya keberadaannya.

Benar juga, malam harinya, setelah siangnya dititipkan ke temannya, Ibunya menjemput. Tapi sayang, ia kecewa karena Ibunya datang sendirian, tanpa ayah. Sebenarnya ia enggan menemui Ibunya, tapi akhirnya dia menemui Ibunya meski terpaksa.

"Nak, ayo ikut Ibu jemput bapakmu!" ajak si ibu. Ajakan yang belum terlintas dalam pikirannya setiap malam. Yang dia pikirkan adalah Ibunya menjemputnya bersama ayahnya. Ternyata Allah memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Singkat kata singkat cerita. Akhirnya keluarganya selamat dari kehancuran.

Pertanyaanya, apa isi surat sang anak kepada Ibunya, sehingga Ibu mengajak anaknya untuk menjemput suaminya? si anak menulis: . . .
Pernikahan adalah sebuah perjuangan kebahagian, ia tidak pernah sempurna tanpa adanya cinta. Dan cinta tidak pernah datang dengan cara mudah datang dari langit. Semuanya harus diperjuangkan. Seringkali cinta itu baru mekar setelah melewati berbagai macam derita. Hingga kita harus tersadar bahwa derita bukanlah musuhnya cinta, tapi derita itu sedang membuat cinta menjadi lebih dewasa.
Sahabat Mutiara Hati . . .
Memang, pada usia 40-an dan ke atas, suami istri akan dilanda satu krisis yang dinamakan oleh pakar-pakar psikologi sebagai krisis pertengahan umur. Pada waktu itu hormon testosteron akan berkurang seiring terjadinya beberapa perubahan yang “mengejutkan”.


Lelaki Andropaus
Kaum lelaki akan mengalami fase andropous yang mengakibat kurang daya rangsangan seks, cepat rasa letih, perubahan emosi seperti cepat marah,cepat merajuk, mudah rasa tertekan dan “mood” yang berubah-ubah. Pada waktu inilah lelaki akan diserang oleh pelbagai rasa yang meresahkan. Antara lain ialah dia mulai merasa tidak bahagia dengan hidup dan gaya hidupnya sendiri.

Manakala secara interpersonal dia mulai merasa bosan dengan individu-individu yang berada di sekelilingnya. Dari sudut kerja dan hobinya, tiba-tiba ada bidang lain yang menarik minatnya. Dia seolah-olah menjadi remaja untuk kali kedua walaupun dalam keadaan tenaga dan upaya semakin menyusut.

Lelaki andropaus juga dilanda penyesalan tentang pilihan-pilihan yang telah dan pernah dibuatnya dalam hidup. Mengapa aku memilih yang ini, tidak yang itu? Sampai pada satu tahap, dia berasa marah dengan istrinya dan rasa terikat dengannya. Dan yang paling mengintimidasi apabila mulai timbul keinginan untuk menjalinkan hubungan baru. Jangan terkejut jika pada usia ini lelaki yang selama ini “aku padamu” pun akan berlaku curang!

Wanita Menopaus
Bagi kaum wanita pula, mereka akan mengalami fase menopaus. Tahap ini juga melibatkan perubahan fisikal, tingkah laku, emosi dan kejiwaan. Perubahan ini bisa mengarah kepada kebaikan, maupun sebaliknya. Wanita yang mengalami fase ini akan terdorong untuk lebih berdikari dan mandiri. Fokusnya lebih kepada ke-aku-annya. Dia ingin memiliki kemampuan keuangan sendiri, hobi dan objektif sendiri dan pelbagai lagi yang “sendiri”. Pada waktu itu ada wanita yang mengejar kembali atau “impian” semula apa yang tidak dapat dicapainya semasa muda.

Walau apapun krisis yang melanda diri suami dan istri, Islam punya cara untuk menangani krisis pertengahan umur. Islam adalah agama fitrah yang mampu menghadapi perubahan dalam fitrah kehidupan berumah tangga. Selagi berpegang kepada aqidah, syariat dan akhlak islamiah lelaki andropaus dan wanita menopaus akan dapat mengawali perubahan biologi maupun psikologi ke arah kebaikan.

Hakikatnya, siapa kita sewaktu tua direflesikan oleh masa muda kita. Jika cinta kita dibina atas tujuan beribadah, maka tujuan itu mampu mempertahankan kita daripada landaan godaan, cobaan dan masalah yang datang bersama krisis pertengahan umur. Jika pangkal jalan kita benar, betul dan kukuh maka mudahlah kita kembali ke pangkal jalan itu apabila dirasakan ada yang 'tersesat' di pertengahan jalan kehidupan itu.

Suami andropaus dan istri menopaus hakikatnya diuji dengan keegoan (ketakaburan). Sama-sama ego. Cuma biasanya ego lelaki lebih terserlah, manakala ego wanita lebih tersembunyi. Ego itulah yang menyebabkan suami merasakan dirinya lebih baik, gagah dan berupaya sehingga mula menjalinkan hubungan dengan wanita lain. Ego itulah yang menyebabkan istri mulai merasa kuat dan mampu melalui kehidupan tanpa bersandar lagi kepada pandangan dan pimpinan suami. Dan ego itulah juga yang menyebabkan kedua-duanya melakukan aktivitas atau tindakan yang bertentangan dengan syariat.

Penyakit Ego
Ego dengan manusia bertolak dari ego kepada Allah. Orang yang besar diri sebenarnya tidak mengenal kebesaran Allah. Jika Allah “dibesarkan” dalam dirinya, niscaya terasa kerdillah diri dan dengan itu seseorang manusia akan mudah berhubungan dengan manusia lain. Mengenal Allah juga akan membuahkan rasa cinta kepada-Nya. Dan cinta kepada Allah itulah sumber cinta kita sesama manusia. Gugurlah tiga ciri ego – merasa diri lebih baik, memandang hina orang lain dan menolak kebenaran dari diri suami dan istri. Dan dengan begitu, mudahlah mereka berdua menghadapi krisis pertengahan umur.

Jadi, sangat penting dijaga niat dalam membina cinta dalam rumah tangga. Ia hakikatnya satu hijrah dari alam bujang ke alam pernikahan dan hijrah itu mestilah didorong oleh niat yang baik, benar dan betul. Berniatlah nikah hanya karena Allah, karena itulah pangkal jalan yang dapat kita susuri kembali apabila bertemu dengan masalah dalam kehidupan berumah tangga pada awal, pertengahan atau di ujung nanti. Ingatlah pesan Rasulullah saw. bahwa seseorang akan mendapat ganjaran atau balasan mengikut apa yang diniatkannya.

Bagaimana pula dengan pasangan yang telah terlanjur? Maksudnya, mereka yang menikah tanpa sedikit pun terniat karena Allah? Yang menikah hanya atas dorongan fitrah dan dilangsungkan atas dasar adat bukan ibadat? Perlu diingat, tidak ada istilah terlambat dalam melakukan satu kebaikan. Selagi ada nyawa di badan, maka selagi itulah kita mampu membetulkan atau memperbaharui niat dalam pernikahan. Bertaubatlah atas niat yang salah dan sebagai gantinya, binalah niat baru yang lebih benar dan jitu.

Gelanggang Ibadah
Katakan pada diri bahwa rumah tangga ini pada hakikatnya ialah gelanggang untukku dan pasanganku serta seluruh anggota keluargaku untuk beribadah kepada Allah. Selagi semua anggota keluarga beribadah dan rumah tangga dijadikan gelanggang ibadah, maka akan wujudlah ketenangan, kemesraan dan kasih sayang sesama mereka. Apalagi keluarga yang dibangun adalah keluarga pengemban Dakwah!

Katakan juga bahwa rumah tanggaku akan hancur sekiranya ia tidak lagi menjadi gelanggang ibadah buat seluruh anggota keluargaku. Aku, belahan jiwaku dan anak-anak yang berperilaku bertentangan dengan tujuan kami diciptakan akan merobohkan syurga yang indah ini.

Memang pada awal rumah tangga dibina segalanya akan nampak indah. Ini karena segala-galanya terbina di atas fitrah… Maksudnya semua manusia secara fitrahnya (instink) inginkan cinta. Seorang lelaki inginkan kasih sayang seorang istri dan begitulah sebaliknya. Tetapi cinta yang berasaskan fitrah saja tidak cukup untuk mempertahankan keharmonisan dalam sebuah rumah tangga.

Fitrah perlukan syariat. Syariat itu ialah peraturan Allah. Melaksanakan syariat itulah ibadah. Syariatlah yang mengatur, menyubur dan mengawal fitrah. Allah yang mengaruniakan cinta dan Allah jualah yang menurunkan syariat untuk mengawal dan menyuburkannya. Jika tidak, cinta akan tandus. Kasih akan pupus. Sama ada dalam diri lelaki andropaus maupun wanita menopaus.

Ingatlah bahwa cinta itu adalah rasa. Ia tidak terbina oleh urat, daging dan tulang. Tetapi ia rasa yang terbina di hati. Di daerah rasa, tidak ada tua atau muda. Tidak ada permulaan, pertengahan atau pengakhiran. Di hati yang beriman, tetap ada cinta. Cinta tetap muda walaupun yang usia telah tua… justru cinta itulah yang membentuk hati yang sejahtera, bekal kita ke alam syurga!
Wanita (juga) Punya Selera

Untuk mereka para hamilud dakwah tapi masih gelisah
Untuk mereka yang setengah hidup istiqamah tapi masih gundah
Untuk mereka para pejuang syariah-khilafah tapi belum nikah

Jangankan lelaki biasa, nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, pikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala- galanya. Apalagi yang tidak ada di surga?, namun nabi Adam as. tetap merindukan Belahan Jiwa.

Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka. Sehingga tak logis pula bila tulang yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus, maksudnya adalah bila 'wanita tidak lurus' (tidak shalihah) melahirkan anak-anak, mereka tidak akan (bisa) mendidiknya menjadi anak-anak shalih-shalihah. Maka wajar bila wanita sejati (juga) punya selera dalam menerima sesosok lelaki yang akan menjadi imamnya.

Dalam hal ini saya teringat episode cantik dalam sejarah manusia, seorang wanita yang rela menukar cinta dan hatinya dengan Islam sebagai maharnya. Tatkala Rumaisha binti Milhan dengan suara lantang menjawab pinangan Abu Thalhah, seorang terpandang, kaya raya, dermawan dan ksatria: "Kusaksikan kepada engkau, hai Abu Thalhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela engkau menjadi suamiku tanpa emas dan perak. Cukuplah Islam itu menjadi mahar bagiku !". Akhirnya tinta emas sejarah mencatatnya sebagai seorang ummu Sulaim yang mendidik anaknya, Anas bin Malik dan dirinya sebagai perawi hadits Rasulullah. Dikenal sebagai wanita yang ikut terjun langsung dalam berbagai pertempuran bersama Rasulullah. Dialah yang memberi pertolongan kepada para prajurit muslim dengan memberi makanan dan minuman, serta merawat mereka yang terluka. Bahkan bersama Abu Thalhah suaminya (hingga suaminya menjadi syahid), ia pernah bertempur langsung merebut senjata musuh untuk membentengi Rasulullah saw. Subhanallah... Allahu Akbar...

Malam ramah tak terjamah rasa
Heningpun seakan beraroma
Bersahut salam dingin menyapa
Berdenyut nadi ke ujung gemigil kata
Hantarkan kita mengingat semua
Penggal – penggal cerita dipilar kisah agung akannya
Sosok Rumaisha yang menukar cinta dengan Agama
Sosok Sumayyah yang menggadai nyawa dengan surga
Sosok Khadijah yang memilih Muhammad karena integritasnya
Dan sosok-sosok agung yang tak terlupa
Wanita (juga) punya selera
Bukan Harta-Tahta, tetapi Agama dengan segala loyalitasnya
Bukan Raga-Rupa, tetapi Surga dengan segala konsekuensinya
"Allahumma inni as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amala alladzi yubalighuni ilaa hubbika. Allahummaj’al habbaka ahabbu ilayya min nafsii wa ahlii waminal maail baarid"
(Yaa Allah... Sesungguhnya aku memohon cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan amal yang menyampaikanku pada cinta-Mu. Yaa Allah... Jadikanlah cintaku kepada-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku dan air yang sejuk/dingin (harta).
(HR. Imam Tirmidzi)
Jikalau Pada Akhirnya...

Siangku muram, dibatas cakrawala pertama yang kian tenggelam. Beratap awan menghitam. Menghantar hati pada rasa yang kian dalam. Begitu dalam. Buatku terdiam berucap memendam. Membisu selayak pualam. Disisi lentera yang perlahan padam. Disisi kelamnya malam, bergetar rasaku dalam diam. Dalam sesal yang kian mencekam. Dalam kecewanya yang kian menghujam. Dalam rasa tak percaya yang kian menghantam. Realita menyungkurkanku pada lembah tak bertuan. Semua karena kesalahan yang tak seharusnya kulakukan. Semua karena kegagalan yang tak segera kubuat pelajaran. Semua karena penyesalan yang seharusnya lebih dulu kurasakan.

Tersarukku kini dalam luka. Terperih akan tiap tetes matanya. Membenci diri tiada terkata. Semua menyisakan tanya. Mengapa? Tanpa ada jawab walau sepatah. Semua menyisakan tanda. Inikah saya? Seonggok sukma kecil hina. Hanya seuntai harapan yang kini ada. Bergelanyut pada kasih sayang-Nya. Berharap semua kan segera sirna. Kembali hanya pada untaian kata, Hidup Mulia atau Hidup Bahagia!. Dan kembali menggores kata dalam pena, yang penuh tinta, yang banyak memeras air mata. Untuk berbagi Mutiara hidup yang bermakna.

Jikalau derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang masa.

Jikalau kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalau luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalau kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalau kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih mulia.

Jikalau harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti kikir pada sesama,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalau kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalau bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti egois merasakannya,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalau hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari biasa yang binasa, pada suatu ketika yang telah lama dan akan kita ketahui. Ketika semua telah menjadi masa lalu. Aku ingin ada di antara mereka. Yang bertelekan di atas permadani, sambil bercengkerama dengan tetangganya. Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu, hingga mereka mendapat anugerah itu.

[(Duhai sahabat, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini) -o-
(Wahai sahabat, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)]

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari biasa yang binasa, pada suatu ketika yang telah lama dan akan kita ketahui. Ketika semua telah menjadi masa lalu. Aku tak ingin ada di antara mereka. Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah: Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

[(Duhai...! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariyah yang dapat menyelamatkanku kini?) -o-
(Duhai...! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?)]
Semangat Cinta

...Semangat Lagi Cinta...
Guguran bayu masih membasah buana
Seperti raga
Memberi rasa berbeda
Di episode awal cerita
Mutiara Hati, Mutiara Cinta
Indahnya…
Membuat kita sekejap terlena
Membayangkan dalam kata
Mengimpikan dalam cerita

...Semangat Lagi Cinta...
Sudahkah dalam pelukannya,
Embun Mutiara Hati ingin kembali menyapa.
Sudahkah dalam merdunya,
Pipit mungil bersalam penuh irama.
Sudahkah dalam suryanya,
Mentari haturkan hangatnya,
Menyambutmu dengan hari penuh rasa,
Bertabur cinta...
Di kota harapan beribu bunga,
Surga...

...Semangat Lagi Cinta...
Cinta kan selalu ada
Ditiap awal kita membuka mata
Ditiap akhir kita menutup masa
Karena cinta hal terindah yang pernah ada
Yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta
Kepada kita, umat manusia
Kepada mereka, bangsa flora dan fauna
Bagai kata dengan awal yang sempurna
Bagai cerita dengan akhir yang bahagia
Cinta, satu kata sejuta makna.
Cinta, satu frasa sejuta rasa.
  • Sahabat

    Statistik

  • Berlangganan

    Sahabat yang ingin mutiara-mutiara ini langsung terkirim ke Email Sahabat, silahkan masukkan Email disini:

    Kacamata Dunia

    free counters