Suara Hati

Waktu kali ini membungkamku tuk bersuara
Menghujam dalam rasa
Menenggelamkanku dalam kubangannya
Menekankan jiwa akan kata yang lamat menyanyat nyata
"Aku salah"
"Aku salah"
"Aku salah"
Tertanam jelas tanpa penghalang mengapa
Tak dapat lagi berkata
Hanya raga rendah tanpa peka yang tersisa
Hanya jiwa hina tanpa peka yang terlupa
Inikah akhirnya...
Semua harapan semua asa
Untuk tetap merenda
Inikah akhirnya...
Tentang dia pada jendela cahaya-Nya
Pada hati pada rasa
yang masih penuh akan kata harap
Maaf...
Hanya ini yang dapat kuhaturkan
dari pelataran kesalahan
dari beranda kekhilafan
Maaf.Maaf..Maaf...
Sahabat Sejati

Satu rasa tanpa terasa
Satu kata telah tertata
Satu asa telah terbina
Telah menjalin erat pada mereka
Terhatur salam dalam doa
Terhatur berkorban untuk dunia
Terhatur berjuang bersama meraih surga
Tulus dari lubuk jiwa
Merekalah sahabat sejati kita

"Seorang sahabat bukanlah (sesungguhnya) sahabat, kecuali apabila dia memberikan perlindungan kepada temannya dalam tiga kesempatan: dalam kesukaran, dalam ketidakhadiran, dan dalam kematiannya," demikian Imam Ali bin Abi Thalib ra pernah berucap.

Ucapan Imam Ali tersebut patut untuk kita renungkan. Terlebih lagi kita ini sekarang hidup dan tinggal pada zaman di mana harta, uang, kedudukan, dan pangkat benar-benar dijunjung tinggi dan dihargai lebih dari apa pun oleh banyak orang.

Dulu, sangatlah mudah menjumpai orang menolong atau membantu orang lain dengan sepenuh rela sepenuh ikhlas. Sekarang, sangat mudah menjumpai orang menolong atau membantu orang lain dengan sepenuh pamrih sepenuh maksud. Dulu, mudah membina dan membangun persahabatan atas dasar cinta dan kasih sayang. Sekarang, mudah melihat hubungan pergaulan, pertemanan, dan persahabatan atas dasar tujuan dan target yang ditentukan.

Dahulu, sahabat sejati adalah sahabat yang saling bersama dalam kesukaran, ketidakhadiran, dan kematian. Ketika dalam kesukaran, sahabat kita mau membantu dan menolong kita meringankan dan mengatasi kesukaran tersebut. Ketika dia tidak hadir di samping kita, dia sanggup menjaga nilai-nilai persahabatan: tidak menggunjing, tidak memfitnah, tidak menyebar borok-borok kelemahan dan kekhilafan yang kita miliki sebagai manusia biasa. Ketika ada saudara atau orang yang kita cintai meninggal dunia, sahabat kita datang dengan hati yang pedih sambil memanjatkan doa tulus agar Allah swt. menerima di sisi-Nya.

Sekarang, sungguh mudah menemukan sahabat yang telah dianggap sejati justru menjadi musuh yang paling dibenci dan dimuaki. Ketika sahabat itu ada di samping kita, dia menampakkan wajah yang ceria, suka, ramah, dan sangat menyenangkan. Tetapi, ketika dia jauh dari kita dan bersama orang lain, dengan tega-teganya dia membeberkan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang kita miliki. Bahkan, kalau dirasa ada untungnya (apalagi untungnya gede), tak segan-segan dia memfitnah kita demi menarik simpati orang yang diajak berbicara.

Beruntung misalnya kita tidak tahu dan tidak sadar bahwa salah satu sahabat kita telah menikam kita dari belakang. Beruntung kita tidak tahu dan tidak sadar bahwa dia telah merobek-robek nama kita seperti merobek-robek kain kafan; telah menjegal kita seperti pemain sepak bola menelikung lawan; telah menikam jiwa kita seperti seekor singa menikam mangsanya.

Kalau kita tahu?
Bagaimana kalau suatu saat kita tahu dan sadar bahwa selama ini, tanpa sepengetahuan kita, dia rela menjual nama kita, menjelek-jelekkan kita, dan bahkan memfitnah kita?

Tapi, apakah hal yang seperti itu pernah terjadi? Tanyakan kepada diri kita sendiri. Tanyakan juga kepada orang-orang di sekitar kita. Tanyakan kepada Julius Caesar dan Brutus! Tanyakan kepada al-Qur'an, sedangkan salah satu ayat-Nya telah memberi peringatan kepada kita:
"...Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa..."
(QS. az-Zukhruf: 67)
Lantas, bagaimana kita mencari sahabat, memperlakukan sahabat, dan membina persahabatan yang sejati dalam pandangan agama?

Pertama-tama, yang perlu kita sadari adalah kenyataan bahwa betapapun kita akrab dengan sahabat kita -sehingga kita menyebutnya sebagai sahabat sejati- itu tetap tidak bisa menolak dia -yakni sahabat sejati kita itu- tetaplah orang asing bagi kita dalam arti dia hanya sebatas sahabat kita. Bukan saudara kandung kita. Bukan pula orang yang bertalian darah secara dekat dengan kita. Padahal, kita tentunya juga tahu dan paham bahwa terkadang kita menjumpai bagaimana sesama saudara kandung saling merendahkan, saling menghinakan, dan salinf mencaci-maki. Maka, apalagi hanya sebagai seorang sahabat? Walau sahabat sejati?

Fakta bahwa dia itu hanya sekedar sahabat kita itulah sehingga potensi bahwa persahabatan kita dengannya suatu saat bisa rusak sangatlah ada; sangat niscaya terjadi.

Lalu bagaimana?
Makanya, yang perlu kita perhatikan juga adalah penting bagi kita untuk memilih-milih sahabat dengan kriteria agama, yakni satu pemikiran dan satu perasaan. Bukan sekedar satu tujuan. Apa yang digambarkan oleh Imam Ali ra di atas sesungguhnya merujuk pada sahabat sejati berdasarkan agama yang memiliki satu pemikiran dan satu perasaan. Konkretnya, janganlah kita bersahabat dengan orang yang beda pemikiran dan tentunya juga beda perasaan, meski orang tersebut satu tujuan. Atau, bila kita tetap bersahabat dengan seseorang karena memiliki tujuan yang sama, tanpa memiliki satu pemikiran dan satu perasaan untuk menggapai tujuan yang sama tersebut, maka berhati-hatilah bahwa suatu saat sahabat kita mengkhianati kita, ia akan menikam, menjegal, dan bahkan memfitnah kita apabila kita menjadi batu sandungan baginya untuk menggapai tujuan tersebut. Contohnya, tengoklah kembali kisah agung Abu Bakar ra melindungi Rasullah saw di dalam dua meski ia kesakitan digigit ular, atau Ali ra yang menggantikan Rasulullah saw tidur di tempat tidurnya meski nyawanya terancam, dan banyak lagi kisah agung sahabat sejati lainnya.
Selama ini. Kumencari-cari. Teman yang sejati.
Buat menemani. Perjuangan suci...
Bersyukur kini. PadaMu Illahi.
Teman yang dicari. Selama ini. Telah kutemui...
Dengannya di sisi. Perjuangan ini. Senang diharungi. Bertambah murni.
Kasih Illahi. KepadaMu Allah. Kupanjatkan doa.
Agar berkekalan. Kasih sayang kita.


Kepadamu teman. Ku pohon sokongan.
Pengorbanan dan pengertian. Telah kuungkapkan. Segala-galanya...
Kepada-Mu Allah. Kupohon restu. Agar kita kekal bersatu.
Kepadamu teman. Teruskan perjuangan.
Pengorbanan dan kesetiaan. Telah kuungkapkan. Segala-galanya.
Itulah tandanya. Kejujuran kita.


Allah is My Choice


Segala yang telah tercari dan terasa
Tiada lebih berarti dari Cinta-Mu
Ketika ku coba mendua...
Menembus yang terlarang lalu menari sepuasnya untuk yang lain
Kudapati letih yang hampa dan muak pada tarianku sendiri
Jika demi ampunan harus berlari mengelilingi bumi seratus kali tanpa henti
Akan kulakukan dengan senang hati...
Karena kini.... ingin dan harus kembali.....


Banyak yang bilang, "Menaati Allah itu susah... berat... terlalu banyak ujian... apalagi, semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin tinggi pula ujiannya, ibarat pohon semakin tinggi, maka semakin kencang angin berhembus... Pokoknya terlalu banyak resiko. Mendingan biasa-biasa sajalah hidup ini, gak perlu terlalu ekstrem..." 
Demikian alasan-alasan insan malas yang seringkali kudengar.


Jika kita coba renungkan... apakah ujian, cobaan, tantangan dan semacamnya hanya akan kita hadapi ketika kita menerapkan Islam dalam hidup kita serta memperjuangkan eksistensinya dalam tiap lini kehidupan? Jawabnya, TIDAK!
Karena bagaimanapun cara kita menjalani hidup ini pasti tak bisa lepas dari ujian, teguran, tantangan, kesulitan dan sebagainya yang kita rangkai semua itu dengan kata RESIKO.
Ya, resiko. Kita tidak bisa lari darinya. Baik orang kafir, munafik dan mukmin, semua memiliki resiko tersendiri.


Ketika seseorang memilih menjadi kafir dalam hidupnya, lalu apa yang ia cari di dunia ini? harta? maka ia akan melewati berbagai tantangan dan resiko demi memperoleh harta yang ia inginkan. Tentunya, tidak mudah.


Ketika seseorang memilih untuk senantiasa bermaksiat kepada Allah, lalu apa yang ia kejar? kepuasan nafsu? maka Allah telah menyiapkan kesempitan di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Hidupnya sempit, bingung, depresi. Semakin menuruti nafsu, semakin sempitlah hidupnya, meski harta, tahta dan wanita telah memenuhi hidupnya. Mengapa? Karena dia jauh dari Allah, karena nafsu yang ia turuti adalah nafsu syetan, maka ia pun jauh dari pertolongan Allah.


Ketika seseorang memilih untuk menjadi seorang mukmin yang istiqamah... lalu apa yang ia inginkan? Tak ada hal lain selai Ridha Allah dalam hidupnya. Maka Allah telah menyiapkan ujian-ujian agar keimanan itu semakin meningkat serta menjanjikan kebahagiaan yang luar biasa di akhirat. Lalu apakah ujian itu membuat hidup di dunia ini sempit? TIDAK! mengapa? Karena Allah Azza wa Jalla akan selalu menemani hidupnya, menguatkan langkahnya, meneguhkan kedudukannya. Bukankah Allah telah berjanji dalam hadits Qudsi:

"Hamba-Ku terus mendekati-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya Aku akan menjadi telinga yang dengannya dia mendengar, Aku akan menjadi mata yang dengannya dia melihat. Aku akan menjadi lidah yang dengannya dia berkata, Aku akan menjadi tangan yang dengannya dia berbuat dan Aku akan menjadi kaki yang dengannya dia berjalan"

Inilah hidup. Dalam hidup terdapat pilihan-pilihan. Mana yang akan kita pilih?
Mengejar harta? sedang harta itu tidak kekal...
Menuruti nafsu syetan? sedang syetan itu adalah musuh yang nyata...
Atau Ridha Allah... Sang Pencipta dan Pengatur hidup kita. Yang telah melimpahkan kasih sayang-Nya dalam hidup kita....
Maka, dengan ke-MahalembutanNya, Allah berfirman untuk orang-orang yang bertaubat:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (TQS. Ali ‘Imrân [3]: 13)

Apalagi saya pernah mendengar hadits, kurang lebih isinya:

Ketika seorang hamba mendekati Allah dengan merangkak, maka Allah akan menuju kita dengan berjalan, jika kita mendekati Allah dengan berjalan, maka Dia akan menuju kita dengan berlari, Allah sungguh amat dekat, bahkan lebih dekan dari urat nadi kita, Subhanallah....

Sobat MH yang dimuliakan Allah... Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta berada pada barisan para syuhada, yang Ikhlas nan Istiqamah dalam memperjuangkan Dien-ini Amin....
Pesonamu...

Begitu indah Namamu. Betapa megah pesonamu. Buat ku mimpi berlabuh dipelataran istanamu. Didetak degup hati tak menentu. Membaur dalam jiwa bertabur rindu. Setelah delapan puluh tahun berlalu, akan sejarah keemasan dan kejayaan yang telah lalu. Membalut dekap erat langkah citaku. Tenggelam dalam nikmatnya perjuangan akanmu.

Indah Pesonamu, dalam sandaran jiwa teguh dan tangguh. Megah Namamu, dalam lambaian hati para perindu.
…KHILAFAH…

Segala daya dan upaya yang bisa kulakukan, telah dan akan terus kulakukan untuk menyambut hadirmu. Buatlah aku jadi insan pemilik hati yang kian teguh dan tangguh untuk selalu dan selalu memperjuangkanmu, setelah merasakan (meski belum mengalami) betapa nikmatnya hidup dibawah naunganmu..

Engkau...
Dibalik kegagahanmu, coba hadir selalu, untuk selalu melindungi setiap insan yang hidup dalam pelukanmu. Sejarah mencatat:
Pada tahun 837, Khalifah al-Mutasim Billah dari keKHILAFAHan Abbasiyah menyahut seruan seorang budak muslimah yang konon berasal dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar. Ia meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan kaum Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah al-Mutashim Billah dengan lafadz yang legendaris "waa Mutashimaah!" yang juga berarti "di mana kau Mutashim, tolonglah aku!"

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan yang panjang barisannya tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki) untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk di tangan Khalifah al-Mu'tasim pada tanggal 13 Agustus 833 Masehi. Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan.  Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi.


Setelah menduduki kota tersebut, khalifah memanggil sang pelapor untuk ditunjukkan dimana rumah wanita tersebut, saat berjumpa dengannya ia mengucapkan "Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?" Dan sang budak wanita ini pun dibebaskan oleh khalifah serta orang romawi yang melecehkannya dijadikan budak bagi wanita tersebut. Subhanallah...
Namun engkau telah tiada hari ini,
dan perlindungan semacam itu tak terbaca lagi hari ini,
sehingga saat ini;
rintihan dan tangisan muslimah meminta pertolongan tak berarti,
Nyaris tak berarti lagi.

Engkau...
Dibalik Kemegahanmu, coba hadir selalu, untuk selalu mengayomi setiap insan yang hidup dalam dekapanmu. Sejarah menulis:
Di era keKHALIFAHan Umayyah, Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan bahwa Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata, "Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz (Khalifah waktu itu) untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai orang miskin seorangpun."

Karena begitu makmurnya rakyat waktu itu, pemerintah pun mengalihkan distribusi zakat ini ke pembayaran orang yang dililit utang-utang pribadi. Lagi-lagi kas negara masih lebih dari cukup dan memerintahnya lagi untuk memberikan biaya-biaya bagi rakyat yang ingin menikah, yang sebenarnya bukan tanggungan dari pemerintah. Subhanallah...
Namun engkau telah tiada hari ini,
dan pengayoman semacam itu tak terbaca lagi hari ini,
sehingga saat ini;
kemiskinan, pengangguran, dsb bukan hal yang tabu lagi
Nyaris tak tabu lagi.
Aku
Insan kecil penyukamu
Dalam ragu mendekap tubuhku
Susah tuk ku ungkap terburu
Semua rasa seakan beku
Kelu lidah membisu

Aku
Tanpa tepian jenuh selalu
Dalam jauh menatap selalu
Ulas senyum tanpa aling palsu
Tersungging elok akan kepastian hadirmu

Aku
Dalam bayang menunggu
Semua kan terjentik sang bayu
Beku takkan lagi beku
Jauh takkan lagi jauh
Terjernih tanpa ragu
Tuk pula kau pandang tanpa semu

Aku
Kan selalu berjuang untukmu
Berjuang tuk kehadiranmu
Di jantung kota pahlawan penuh rindu
Ku harap kan dapat menyaksikan kehadiranmu
Wahai Sahabatku, MAU?
* * * * *

Imam al-Juwaini, "Imamah (KHILAFAH) adalah kepemimpinan menyeluruh serta kepemimpinan yang berhubungan dengan urusan khusus dan umum dalam kaitannya dengan kemaslahatan-kemaslahatan agama dan dunia."
(Al-Juwaini, Ghiyâts al-Umam, hlm. 5)

Imam al-Mawardi, "Imamah (KHILAFAH) itu ditetapkan sebagai penggganti kenabian, yang digunakan untuk memelihara agama dan mengatur dunia."
(Al-Mawardi, Al-Ahkâm ash-Shulthâniyah, hlm. 5)
Ada Surga Di Wajahmu

Teruntuk seorang Akhwat, yang mampu mengubah hidupku. Hidup yang tak tentu arah menjadi terarah. Hidup yang begitu gelap menjadi terang. Hidup yang tiada tujuan menjadi begitu berarti dan penuh misi. Dia... Menyampaikan padaku apa-apa yang wajib disampaikan; Mengajarkan padaku apa-apa yang Rasulullah wariskan.

Nafas menjadi ibadah
Pandangan menjadi ibadah
Pendengaran menjadi ibadah
Perkataan menjadi ibadah
Gerak hati menjadi ibadah
Segala menjadi ibadah

Teruntuk seorang Akhwat. Yang selalu membuatku menagis ketika menatapnya, karena tergambar segalanya. Segala dosaku; Segala khilafku; Segala lengahku; Segala kemunafikanku; Segala amal -yang entah- apakah Rabbku Ridha atasnya.

Yaa Rabb, Sang Maha Bijaksana...
Ampuni hambamu yang Dha'if ini.
Dan teruntuk seorang akhwat,
yang selalu membuatku menangis ketika memandangnya,
karena tergambar begitu indahnya...
Indahnya Islam...
Indahnya Iman....
Indahnya Dakwah...
Indahnya Ukhuwah...
Indahnya Surga...

Ya... Surga. wajahnya senantiasa mengingatkanku akan surga. Aku ingin bersamanya disana. Entah... Apa persembahan yang layak untuk ku berikan padanya. Jika ia butuh hartaku, akan kuberikan untuknya. Jika ia butuh suami, akan ku tawarkan suamiku untuknya. Jika ia butuh tenagaku, akan kukerahkan sekuat tenaga untuk membantunya.

Namun apa yang justru ia katakan...!!!
"Tidak Dik... Jangan demikian. Aku hanya sangat berharap kau kerahkan segala hartamu, keluargamu dan segala tenagamu untuk Allah dan Rasul-Nya. Kerahkan segalanya seoptimal mungkin untuk perjuangan dakwah ini, demi tegaknya Khilafah yang telah di depan mata ini. Dan untukku, curahkan do'amu di sepertiga malammu. Semoga Allah mempertemukan kita di surga-Nya kelak. Semoga kemuliaan ini tegak di tangan-tangan kita. Di tangan jundi-jundi yang ikhlas nan istiqamah".

Lalu... di antara rasa dan curahan kata syukur yang tak mampu lagi ku ucap, aku menjawab: "Mbak... mohon di maklumi, jika setiap ku bertemu denganmu, aku tak mampu membendung air mataku. Karena sungguh... aku melihat surga di wajahmu".

  • Sahabat

    Statistik

  • Berlangganan

    Sahabat yang ingin mutiara-mutiara ini langsung terkirim ke Email Sahabat, silahkan masukkan Email disini:

    Kacamata Dunia

    free counters