Dimanakah DIA di hatiku?


Pada saat Rasulullah saw dan Sayyidina Abu Bakar ra bersembunyi di gua Tsur, dalam perjalanan untuk hijrah ke Madinah, musuh-musuh Islam sudah berdiri dimuka bibir gua dan hampir menemui mereka, sehingga membuat Sayyidina Abu Bakar ra cemas. Ketika melihat gelagat Sayyidina Abu Bakar ra yang cemas, Rasulullah saw menenangkannya dengan berkata, “Jangan takut, Allah bersama kita.” Itulah kehebatan Rasulullah saw, Allah swt sentiasa di hatinya.

Sewaktu seorang tentara musuh hendak menyerang Rasulullah saw, lalu meletakkan pedang ke leher nabi Muhammad saw dan bertanya, “Siapa yang akan menyelamatkan kamu dariku?” Rasulullah saw dengan yakin menjawab, “Allah.” Mendengar jawaban itu, gementarlah orang itu dan pedangnya pun terlepas dari tangannya. Itulah kehebatan Rasulullah saw, selalu dan selalu ada DIA di hati Beliau.

Dikisahkan bahwa suatu ketika khalifah Umar bin Khaththab ra ingin menguji seorang budak gembala kambing di tengah sebuah padang pasir, “Boleh kau jualkan kepadaku seekor dari kambing-kambing yang banyak ini?” tanyanya kepada budak tersebut.
“Maaf tuan, tidak boleh. Kambing ini bukan saya yang punya. Ia milik tuan saya. Saya hanya diamanahkan untuk menjaganya saja.”
Jawab budak itu.

“Kambing ini terlalu banyak dan tidak ada siapa-siapa selain aku dan kamu di sini, jika kau jual seekor kepadaku dan kau katakan kepada tuanmu bahwa kambing itu telah dimakan oleh srigala, tuanmu tidak akan mengetahuinya,” desak Sayyidina Umar ra lagi sengaja menguji.
“Kalau begitu, di mana Allah?” kata budak itu. Sayyidina Umar ra terdiam dan kagum dengan keimanan yang tinggi di dalam hati budak itu. Walaupun hanya seorang gembala kambing yang termasuk profesi bawahan, tetapi dengan kejujuran dan keimanannya dia punya kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Jelas ada DIA di hatinya.

Suatu ketika yang lain, Sayyidina Khalid bin Walid ra diturunkan pangkatnya dari sebagai seorang jenderal menjadi seorang pasukan biasa oleh khalifah Umar ra. Esoknya, Sayyidina Khalid ra ke luar ke medan perang dengan semangat yang sama. Semangat jihadnya tetap membara walaupun telah diturunkan pangkatnya. Ketika ditanya mengapa, Sayyidina Khalid ra menjawab,“aku berjuang bukan kerana Umar.” Ya, Sayyidina Khalid ra berjuang karena Allah swt. Ada DIA di hatinya.

Melihat enekdot-enekdot agung itu, saya terkesima, lalu bertanya pada diriku sendiri, "dimanakah DIA di hatiku?", Apakah Allah senantiasa menjadi tempat bergantungnya harapan dan tempat merujuk dan membujuk hatiku yang rawan? Allah ciptakan manusia hanya dengan satu hati. Di sanalah sewajarnya cinta Allah bersemi. Jikalau cinta Allah yang bersinar, sirnalah segala cinta yang lain. Tetapi jika sebaliknya cinta selain-Nya yang bersemayam, maka cinta Allah akan terpinggir. Ketika itu tiada DIA di hatiku!

Sering diriku berbicara sendiri, bersendikan sedikit ilmu dan didikan dari guru-guru dalam hidupku, kata mereka (dan aku sangat yakin dengan kata itu), “Bila Allah ada di hatimu, kau seolah-olah memiliki segala-galanya. Itulah kekayaan, ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki.”


Kata-kata itu sangat menghantui diriku. Ia menyebabkan aku berfikir, merenung dan termenung, apakah Allah telah menjadi tumpuan dalam hidupku? Apakah yang aku pikir, rasa, lakukan dan laksanakan sentiasa merujuk kepada-Nya? Bila berselisih antara kehendak-Nya dengan kehendakku, kehendak siapa yang saya dahulukan? Sanggupkah aku menyayangi hanya karena-Nya? Tegakah aku membenci juga karena-Nya?


Muhasabah ini semakin melebar lagi, Saya tanyakan pada diri, bagaimanakah sikapku terhadap hukum-hukum-Nya? Sudahkah aku melawan hawa nafsu untuk patuh dan melakukan segala yang wajib sekalipun pahit dan sakit ketika melaksanakannya? Sudahkah aku meninggalkan segala yang haram walaupun kelihatan indah dan seronok ketika ingin melakukannya?


Pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya telah menimbulkan lebih banyak persoalan. Bukan lagi akal yang menjawabnya, tetapi rasa hati yang amat dalam. Aku tidak dapat mendustai-Mu, ya Allah. Dan Aku juga tidak dapat mendustai diriku sendiri.
Di hatiku masih ada dua cinta yang bergolak dan berbolak-balik. Antara cinta Allah dan cinta dunia yang sedang berperang begitu hebat dan dahsyat sekali.

Jikalau Sahabat Mutiara Hati bertanya kepadaku, “adakah DIA di hati mu?”, Saya hanya mampu menjawab, “Saya seorang insan yang sedang bermujahadah agar ada DIA di hatiku. Saya belum sampai ke tahap mencintai-Nya, tetapi Saya yakin bahwa Saya telah memulai langkah untuk mencintai-Nya”. Justru belum ada DIA di hatiku, hidupku belum bahagia, belum tenang dan belum sejahtera. Saya akan terus mencari dengan langkah mujahadah ini. Saya yakin Allah itu dekat, pintu keampunan-Nya lebih luas daripada pintu kemurkaan-Nya. Selangkah Saya mendekat, seribu langkah DIA merapat.

Dan akhirnya Saya tiba pada satu keyakinan, di mana DIA di hatiku bukan menagih satu jawaban, tetapi satu perjuangan dan pengorbanan. InsyaAllah, Saya yakin pada suatu masa nanti akan ada DIA di hatiku dan di hati sahabat Mutiara Hati jua! InsyaAllah… Amin. Dan kita akan terus mengemis kasih pada-Nya,

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa jua buta
Lalu terheretlah aku dilorong gelisah
Luka hati yang berdarah kini jadi parah

Semalam sudah sampai kepenghujungnya
Kisah seribu duka ku harap sudah berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
Gerak dosa menhiris hati

Tuhan dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi

Tuhan walau taubat sering kumungkir
Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Bila selangkah kurapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaKu
Cintaku, bukanlah Cinta Biasa.

Biarlah kita hidup sering berpisah,
Itu semua demi amanah dakwah.
Karena syurga menagih ujian berat,
Sedangkan neraka dipagari nikmat.

Dipegang jubah suaminya. Matanya yang jernih menatap sayu. “Apakah ini karena Allah?” tanya hampir berbisik. “Ya, wahai istriku. Semua ini karena Allah,” jawab suaminya lalu segera berlalu. Tanpa toleh, tanpa berpaling.

Mendengar jawaban itu Sayyidah Hajar ra tidak berkata apa-apa lagi. Mata dan hatinya mengantar suaminya Ibrahim as berlalu pergi. Tega dan ridha. Jikalau suamiku meninggalkanku karena Allah, aku pun harus rela ditinggalkan juga karena Allah, mungkin itulah renungan hati Sayyidah Hajar ra sewaktu ditinggalkan Nabi Ibrahim as.

Itulah sedikit gambaran perpisahan karena Allah. Nabi Ibrahim as rela meninggalkan istri dan anaknya Ismail as di bumi yang kering kerontang, suatu lembah yang gersang jauh dari keramaian. Ya, itu semua demi perintah Allah. Demi cinta Ilahi yang lebih tinggi dan suci, ditinggalkannya cinta terhadap anak dan istrinya. Itulah hati Nabi Ibrahim as. Jikalau dulu Ia diuji dengan panasnya api yang membara, kini dia diuji lagi oleh perpisahan dengan anak dan istri.

Jangan disangka hanya Sayyidah Hajar ra saja yang menderita ditinggalkan, tetapi bayangkanlah juga derita suaminya Nabi Ibrahim as yang “meninggalkan”. Terkadang orang yang meninggalkan lebih pahit dan sakit tanggungannya daripada orang yang ditinggalkan. Namun apalah pilihan Ibrahim, bila cinta Allah telah berbicara, cinta yang lain akan membisu seribu bahasa.

Mengapa hanya kata-kata “apakah semua ini karena Allah?” yang diminta kepastian oleh Sayyidah Hajar ra terhadap suaminya, Nabi Ibrahim ra? Mengapa tidak ada ucapan yang lain? Mengapa tidak diucapkan, “kenapa sampai hati kau berbuat begini?” Tidak, ucapan sejenis itu sama sekali tidak keluar dari lisan suci istri shalihah seperti Sayyidah Hajar ra. Apa yang hendak dipastikannya hanyalah satu, semua itu dilakukan oleh suaminya karena Allah. Bila karena Allah, tenanglah hati Sayyidah Hajar ra. Allah pasti tidak akan mengecewakannya, suaminya pun tidak akan dan tiada bermaksud menganiayanya.

Bertemu karena Allah, bersatu karena Allah, berpisah pun karena Allah. Itulah tradisi dalam cinta para shalihin dan muqarrabin. Dan ibrah bagi kita, untuk mengekalkan cinta dalam rumah tangga atau yang lain, inilah teras dan asasnya. Jangan ada “karena” yang lain. Jikalau ada yang lain, pasti cinta itu tergugat jua walaupun bagaimana teguhnya janji dan peneguhan kata yang pernah dimeterai. Untuk mengekalkan cinta, ini saja prinsipnya –berbuatlah apa saja karena Allah. Lurus dan tulus, tanpa belok dan bengkok.

Sekalipun terpisah, namun cinta Nabi Ibrahim as dan Sayyidah Hajar ra tidak pernah luntur. Itu karena keduanya berpegang kepada asas cinta yang hakiki, cinta Ilahi. Dan bila mereka bertemu kembali, beberapa tahun kemudian, cinta itu teruji lagi. Kali ini Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah swt untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim bertekad, Ismail pun mesti dikorbankan. Tetapi bagaimana Sayyidah Hajar ra?

Sayyidah Hajar ra teruji lagi. Nilai anak bagi seorang ibu, terkadang melebihi nilai dunia dan isinya. Ikatan hati antara ibu dan anak jauh lebih teguh dan kukuh daripada ikatan kimia. Sekali lagi “jika itu kehendak Allah”, dia pasrah. Allah pasti tidak akan mengecewakannya, seperti air zam-zam yang menyuburkan lembah Makkah yang gersang, maka begitulah iman yang memperkasa jiwa Sayyidah Hajar ra. Sekali lagi dia rela dan tega.

Kali ini kusadari,
Aku telah jatuh cinta,
Dari hati yang terdalam...
Sungguh, aku cinta pada-Mu...

Cintaku bukanlah cinta yang biasa,
Bila Kamu yang memiliki,
Dan Kamu yang temaniku seumur hidupku...

Terimalah pengakuanku...
(Lirik by Afgan's song)

Ah, begitu agungnya sejarah itu. Namun, dimanakah asas cinta seperti itu di masa kini? Berita perselingkuhan semakin marak di berbagai media, angka perceraian melonjak semakin tinggi. Janji hidup bersama dan mati berdua, hanya jadi mainan kata di awal-awal penikahan. Seiring semakin berlalunya musim bulan madu, cinta semakin hari semakin terkikis. Tak usah untuk mati berdua, hidup bersama pun sudah tidak mau lagi. Suami jemu dengan ulah istri, dan istri bosan dengan tingkah suami. Dan akhirnya, perceraian pun tidak dapat dielakkan lagi.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya, karena dalam hati suami dan istri telah lenyap prinsip “karena Allah”. Memang, kita tidaklah setabah Sayyidah Hajar ra dan setegar Nabi Ibrahim as. Namun setidak-tidaknya kita mengakui dan senantiasa berusaha untuk bersabar dengan peneguhan kata karena Allah. Inilah yang bisa kita pelajari dari cinta dan sabar dalam rumah tangga Nabi Ibrahim as dan isterinya Sayyidah Hajar ra. Sesungguhnya, cinta mereka itu bukanlah cinta biasa!
Misteri Takdir

Cinta begitu indah hiasi taman hati
Seperti tulip, mawar dan melati
Perindah kebun dengan irama harmoni
Harmoni sukacita-dukaderita dalam simpul takdir Ilahi
Yang mengunjungi nurani silih berganti

Pada suatu hari sepasang suami istri sedang makan bersama di rumahnya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seorang pengemis. Melihat keadaan pengemis itu, si istri merasa terharu dan dia bermaksud hendak memberikan sesuatu. Tetapi –sebelumnya- sebagai wanita shalihah yang patuh kepada suami, dia meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya, “Wahai Suamiku, bolehkah aku memberi makanan atau uang kepada pengemis itu ?”. Rupanya sang suami memiliki karakter berbeda dengannya. Dengan suara lantang dan kasar suaminya menjawab, “Tidak usah! usir saja dia, dan tutup kembali pintunya!”. Si istri terpaksa tidak memberikan apa-apa kepada pengemis tadi, sehingga dia(pengemis) berlalu dengan kecewa.

Pada suatu hari yang naas, bisnis sang suami kolaps/bangkrut. Kekayaannya habis dan ia dililit banyak hutang. Selain itu, karena ketidakcocokan sifat dengan sang suami, rumah tangganya menjadi berantakan hingga berujung pada perceraian. Tidak lama sesudah lewat masa iddahnya, wanita shalihah itu menikah lagi dengan seorang pedagang di kota dan hidup bahagia. Pada suatu ketika dia sedang makan dengan suaminya(yang baru), tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk orang. Setelah pintunya dibuka ternyata tamu tak diundang itu adalah seorang pengemis yang sangat mengharukan hatinya. Maka dia berkata kepada suaminya, “Wahai suamiku, bolehkah aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini?”. Sang suami menjawab, “Berikanlah makan atau apa yang engkau hendaki pada pengemis itu!!”.

Setelah memberi makanan dan sejumlah uang kepada pengemis itu, si istri masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk suaminya dari belakang sambil menangis. Suaminya dengan perasaan heran bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis? apakah engkau menangis karena aku mengizinkanmu untuk memberikan sesuatu –terserah kamu- kepada pengemis itu?”. Si istri menggeleng halus, lalu berkata dengan nada haru dan sedih, “Wahai suamiku, aku sedih dan terharu dengan perjalanan takdir yang sungguh menakjubkan hatiku. Tahukah engkau, siapakah pengemis yang ada diluar itu tadi? Dia adalah suamiku yang pertama dulu.”

Mendengar keterangan istrinya demikian, sang suami sedikit terkejut. Lalu dia merubah posisi tubuhnya hingga berhadapan dengan istrinya -tanpa melepaskan pelukannya. Dan segera dia balik bertanya, “Dan engkau, istriku. Tahukah, siapa aku yang kini menjadi suamimu ini?". Lagi-lagi istrinya menggeleng lembut di dadanya, lalu dia mendongakkan kepala istrinya. Dengan linangan air mata di masing-masing sudut matanya, dia mengecup kening istrinya dan kemudian berkata, “Aku adalah pengemis yang dulu diusirnya!!”
Cinta dan Hanya Cinta

Cinta dan hanya cinta yang bisa saya sampaikan,…
Cinta dan hanya cinta yang bisa saya sebarkan,…
Cinta dan hanya cinta yang bisa saya berikan,…
Cinta dan hanya cinta yang bisa saya ajarkan,…
Karena, cinta dan hanya cintalah yang kita butuhkan. Cinta dari Allah, oleh Allah, untuk Allah, dan karena Allah. Tidak mungkin (atau bahkan sangat mustahil) Allah merahmati manusia yang Dia benci, rahmat Allah hanya untuk mereka yang mencintai dan dicintai-Nya.

Cinta dan hanya Cinta...
Cinta adalah satu tema sentral dalam khazanah kehidupan dan sejarah peradaban umat manusia. Ia telah menjadi salah satu instrumen epistemik yang paling banyak dibicarakan, ditulis, didiskusikan, disyairkan, dinovelkan, didramakan, dan difilmkan.

Cinta dan hanya Cinta…
Bila ditumbuhkan dalam ruang libido, lahirlah freudisme(cinta birahi); dalam ruang emosi, lahirlah egosentrisme(cinta ragawi); dalam ruang akal, lahirlah egoisme(cinta diri/kepongahan atau narsisme); dalam ruang ambisi, lahirlah materialisme(cinta duniawi). Namun, semua tipologi cinta itu hanya bersifat majazi (aforistis atau metaforis). Tak ada dan tak akan pernah ada kesejatian dan kesadaran hakiki yang menyertainya, kecuali sebentuk pseudo-kesadaran belaka yang akan menggiring pada jurang gelap fatalisme, absurdisme, atheisme, kapitalisme-liberalisme, sosialisme, nihilisme, dan individulisme radikal.

Akan tetapi, bilamana cinta tumbuh dalam ruang Kalbu, lahirlah sufisme(cinta ilahi).
Cinta hakiki hanya terpaut dengan Yang Hakiki; Dialah Yang Maha Cinta, Allah ‘Azza wa Jalla. Allah adalah sumber, poros, sekaligus cinta dan kebahagiaan abadi. Dia adalah totalitas, unitas, dan absolutitas cinta yang tidak menyisakan ruang sekecil pun bagi ambiguitas.
Risalah Cinta

Yaa Ilahi, Rabbi...
Kutunggu jawaban-Mu di sajadah kalbu
Kusimpan pesona-Mu di relung hati
Kusibak tabir-Mu dengan menanggalkan dosa
Kuraih kasih-Mu dengan bertasbih

Yaa Waduud...
Semaikan benih-benih cinta,
agar Aku dapat menyapa senyum-Mu.
Bukankah setetes air cinta,
tidak akan mengurangi keindahan-Mu.
Bukankah Aku berhak merasakan kemesraan cinta-Mu...
Jikalau Engkau tolak risalahku,
Kemana lagi kualamatkan goresan tinta, cinta dan cita-cita ini...

Yaa Rahman, Yaa Rahim...
Aku memang petualang cinta,
Aku masih mencari dan belajar memaknai cinta,
Sebagian cintaku, kugadaikan pada yang lain.
Namun, dengan keagungan cinta-Mu.
Bukankah Engkau tidak pernah menolak cinta hamba-Mu.
Terimalah puing-puing cintaku,
Balaslah cintaku dengan mahabbah-Mu.

Yaa Arham al-Rahim...
Dihadapan-Mu kupejamkan mata batinku,
Tuk menahan rasa malu.
Nuraniku bertanya,
kado apa yang dapat memikat-Mu...?
Hanyalah risalah cinta ini yang dapat kupersembahkan,
Semoga Engkau berkenan menerimanya.
  • Sahabat

    Statistik

  • Berlangganan

    Sahabat yang ingin mutiara-mutiara ini langsung terkirim ke Email Sahabat, silahkan masukkan Email disini:

    Kacamata Dunia

    free counters