lembut belaian kasihmu takkan tergantitak ada yang bisa sepertimu
aku di sini sendiri berteman sepi
meski terpisah jarak kau dan aku
hanya bayangmu yang menemani
derap langkah perjuanganku
kaulah belahan jiwaku
kaulah curahan hatiku
kaulah lentera hidupku
dan kaulah bidadariku
(Mutiara Hati feat D.O.T Band)
* * * * *
"...Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui...""In Yakuunuu Fuqaraa-a, yughnihimullahuhu min fadhlihi", demikian bunyi janji itu. Dan Jika Allah Yang Berjanji, Maka Allah akan Menepati. Innalaha yukhliful mii'aad.(QS an-Nur :32)
Apa yang membuat kita (ikhwan) ragu-ragu untuk melangkah menyempurnakan separuh agama ini? Sebagian besar menjawab materi sebagai alasannya. Begitu juga yang pernah saya rasakan tempo lalu. Sulit untuk bisa membawa keyakinan akan ayat tadi ke tataran praktis, padahal begitu banyak cerita menakjubkan yang saya dengar tentang pernikahan. Kini, meski masih belum ada ijab-qabul. Saya mengalami apa-apa yang belum pernah saya alami, merasakan apa-apa yang belum pernah saya rasakan, memikirkan apa-apa yang belum pernah saya pikirkan, merenungkan apa-apa yang belum pernah terlintas untuk saya renungkan. Pernikahan adalah salah satu perjanjian kuat (Mitsaqan Ghalidza) dihadapan Allah yang tercantum dalam al-Qur’anul Kariim, dan perlu diketahui, hanya tiga kali al-Qur’an menyebut perkara yang termasuk Mitsaqan Ghalidza, salah satunya adalah pernikahan, dua perkara yang lain tentang Tauhid. Subhanallah…
"Wallahu wasi'un 'aliim", Dan Allah Maha Luas Pemberiannya, begitu bunyi penutup ayat diatas. Begitu luasnya pemberian Allah, sehingga kurs materi tidak akan pernah bisa membelinya. Seorang pendamping hidup adalah pemberian-Nya. Begitu pula semua yang menyertai bidadari itu. Dan jikalau kita ingin meminta... Minta keberkahan-lah yang datang bersama belahan jiwa yang kita pilih itu, karena tampilan shalihah, apalagi sekedar cantik rupawan, takkan pernah cukup untuk memberikan kekuatan agar lentera cita-cita mulia sebuah rumah tangga tetap menyala. Karenanya, semampu kita... pilihlah seorang pasangan hidup dengan ukuran keberkahan, apalagi bila keluarga yang akan kita bangun adalah keluarga Pejuang (tentunya pejuang Syariah dan Khilafah), bukan keluarga Pencari Uang, maka ukuran keberkahan teramat sangat diutamakan. Silahkan tengok lagi kisah pernikahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib ra dengan Sayyidah Fatimah ra, pernikahan yang tidak perlu dipertanyakan lagi keberkahannya. Bisa dikatakan, wanita shalihah belum tentu berkah, tapi wanita berkah pasti shalihah.
Rasulullah Muhammad SAW mengisyaratkan benar pintu-pintu keberkahan itu jangan sampai ditutup oleh keserakahan parameter yang lain.
"Jika ada orang yang kalian ridhai agamanya dan akhlaknya meminang puteri kalian, maka nikahkanlah ia, jika kalian tidak melakukannya, maka fitnah di bumi dan kerusakan besar akan terjadi".(HR. Imam at-Tirmidzi)
"Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya".
"Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya".(HR. Imam Ahmad)
"Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah".(HR. Imam Abu Dawud)
Denyut keberkahan seorang wanita ...
Itulah yang mesti kita telisik di dada ketika cinta menyapa ...
Ada beda yang akan kita rasa, tentang dia ...
Beda itu akan menguatkan azzam kita ...
Menjaga kita tetap dalam logika keimanan ketika menilai harta dan rupa ...
Itulah yang mesti kita telisik di dada ketika cinta menyapa ...
Ada beda yang akan kita rasa, tentang dia ...
Beda itu akan menguatkan azzam kita ...
Menjaga kita tetap dalam logika keimanan ketika menilai harta dan rupa ...
Sobat Mutiara Hati yang dimuliakan Allah... Janji Allah itu pasti, oleh karena itu niatkan keberkahan hadir di setiap keputusan hidup kita, termasuk keputusan memilih dan menemani seseorang dalam jalan perjuangan Izzatul Islam wal Muslimin bisy Syariah wal Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dan serta menuju pertemuan indah dengan-Nya. Allahu Akbar…

Pernahkah Anda merasakan
bahwa Anda mencintai seseorang,
meski Anda tahu ia tak sendiri lagi?
Meski Anda tahu cinta anda takkan berbalas,
tapi Anda tetap mencintainya?
Pernahkah Anda merasakan,
bahwa Anda sanggup melakukan apa saja
demi seseorang yang Anda cintai,
meski Anda tahu ia takkan pernah peduli?
Atau pun ia peduli dan mengerti,
tapi ia tetap pergi?
Pernahkah Anda merasakan…
Dahsyatnya Cinta… !!!
tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia,
bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah !
Saya pernah tersenyum kala terluka…
karena Saya yakin,
bahwa Allah pasti akan memberikan yang lebih terbaik untukku.
Saya pernah menangis kala bahagia…
karena Saya khawatir kebahagiaan ini,
hanya sebuah kesemuan yang ditunggangi oleh hawa nafsu belaka.
Saya pernah bersedih kala bersama…
karena Saya takut,
Allah belum tentu menjadikannya untukku.
Dan, Saya juga pernah tertawa kala berpisah…
karena cinta memang tak harus memiliki
-cinta ada dalam jiwa, bukan dalam raga-,
dan serta Saya yakin bahwa
Allah telah menyiapkan cinta yang lain,
yang jauh lebih baik untukku…

Waktu masih SMA sampai sekarang, sobat-sobat saya menjuluki saya sebagai Pangeran Cinta, Dokter Cinta, Dewa Cinta, Sang Pujangga, Konsultan Cinta, dsb. Saya yang tidak memiliki kualifikasi dan tidak ‘official’ menjadi rujukan sobat-sobat dalam soal cinta dan rumah tangga. Saya dianggap banyak berpengalaman tentang cinta, padahal saya sendiri merasa biasa-biasa saja, karena solusi yang saya berikan kepada mereka adalah solusi Islam –yang mana bila kita memakai Islam sebagai solusi dalam setiap permasalahan hidup kita, maka berbahagialah karena ridha Allah menyertai kita meski solusi yang Islam tawarkan awalnya terasa pahit di mata kita. Tapi yakinlah bahwa solusi Islam akan terasa manis dikemudian hari, bagi kita yang berakal-. Saya senyum-senyum saja saat mendengar anggapan itu, padahal jikalau mereka tahu dan menyadari bahwa ternyata yang hebat itu bukan saya tetapi ISLAM itu sendiri. Subhanallah… Allahu Akbar…
Suatu saat, apa yang menimpa sobat-sobat saya juga menimpa diri saya, yakni bertemu dengan sesosok wanita shalihah yang menurut pandangan saya seTegar dan seDermawan Khadijah ra (insyaAllah). Berbagai masalah dan persepsi dalam pikiran saya, saya muntahkan pada Hati Nurani saya sendiri. Bagaimana memulai ta’arufan, pantaskah saya bersanding dengannya, bagaimana bila nanti ditolak, bagaimana caranya mengkhitbah, bagaimana membangun komitmen, bagaimana menyampaikan ke orang tua tentang rencana saya untuk nikah, dan bagaimana-bagaimana yang lainnya. Yah benar, sebuah RASA sedang menyapa saya. Alhamdulillah… Saya bersyukur atas karunia Allah yang satu ini. Singkat kata, singkat cerita. Hati Nurani dengan bijaksana memperlakukan saya sebagaimana saya memperlakukan siapa-siapa yang mempunyai masalah yang serupa kepada saya. Ibaratnya, saya kena batunya atau dengan kata lain ‘senjata makan tuan’.
“Wanita yang akan kamu pilih itu milik siapa? Milik Allah, ‘kan!”. Hati nurani bertanya dan saya mengangguk.
“Makanya, minta saja pada Allah. Tanyalah pada Allah, apakah dia yang terbaik buat kamu? Mengadulah pada Allah, apakah dia pasangan di dunia dan di akhiratmu? Memohonlah pada Allah, apakah dia akan mendukung dakwahmu memperjuangkan Syariah dan Khilafah? Lalu, serahkanlah semuanya pada Allah, karena Allah Maha Lebih Tahu apa yang terbaik buatmu daripada dirimu sendiri.” Saya hanya bisa mengangguk dan diam sejuta bahasa mendengar petuah Hati Nurani. Lalu Hati Nurani menuntun saya berdoa…
Yaa Allah, Yaa Ilahi...
Engkaulah Pemilik wanita yang akan daku pilih,
Engkaulah Penggenggam hatinya,
Engkaulah yang mampu membuka pintu hatinya.
Yaa Allah, daku hendak menjadikan dia teman dakwahku.
Seperti halnya Khadijah terhadap rasul-Mu.
Daku ingin menikahinya, tapi daku tak tahu siapa dia.
Yaa Allah, Yaa Rabbi…
Seandainya permohonanku ini terbaik buatku di sisi-Mu,
Tunjukkanlah caranya, cara bagaimana daku boleh mengenali dirinya.
Engkau sediakanlah jalan-jalan ke arah untuk mengenali dirinya.
Tetapi jikalau permohonan ini bukan yang terbaik buatku di sisi-Mu,
Maka hilangkanlah rasa ingin hidup bersama dengannya.
Kau lenyapkanlah bayangan dirinya dalam pikiranku.
Dan gantikanlah dengan wanita yang lain,
yang terbaik buatku di mata-Mu.
Amiin… Yaa rabbal ‘alamiin…
Engkaulah Pemilik wanita yang akan daku pilih,
Engkaulah Penggenggam hatinya,
Engkaulah yang mampu membuka pintu hatinya.
Yaa Allah, daku hendak menjadikan dia teman dakwahku.
Seperti halnya Khadijah terhadap rasul-Mu.
Daku ingin menikahinya, tapi daku tak tahu siapa dia.
Yaa Allah, Yaa Rabbi…
Seandainya permohonanku ini terbaik buatku di sisi-Mu,
Tunjukkanlah caranya, cara bagaimana daku boleh mengenali dirinya.
Engkau sediakanlah jalan-jalan ke arah untuk mengenali dirinya.
Tetapi jikalau permohonan ini bukan yang terbaik buatku di sisi-Mu,
Maka hilangkanlah rasa ingin hidup bersama dengannya.
Kau lenyapkanlah bayangan dirinya dalam pikiranku.
Dan gantikanlah dengan wanita yang lain,
yang terbaik buatku di mata-Mu.
Amiin… Yaa rabbal ‘alamiin…
Hati Nurani berkata lagi, “Jikalau Allah mengabulkan doamu, pasti Allah akan tunjukkan jalan-jalan untuk mengenali wanita tersebut. Ada saja jalan yang Allah wujudkan agar kamu berdua dapat berkenalan. Dan jikalau memang jodoh, pasti urusannya diberi kemudahan dan kelancaran, meski harus menghadapi tantangan karena hal itu adalah sebuah proses pendewasaan. Yang jelas hati harus yakin bahwa Allah akan menolong jikalau kita memohon kepada-Nya. Dan jikalau yang didapat tidak sesuai dengan yang kita harapkan, jangan putus asa. Bukankah semua itu hasil dari doa kita yang mengatakan bahwa kalau dia yang terbaik, kabulkan doa kita, kalau bukan yang terbaik, jangan dikabulkan. Innalillahi wa inna lillahi raaji'un.”
Sobat Mutiara Hati yang dimuliakan Allah, semua masalah dan kehendak kita datang dari Allah. Allah memberi pilihan kepada kita untuk memilih. Allah tidak zalim dengan membuat pilihan untuk kita. Kita yang memilih sendiri tetapi pilihan yang dipilih adalah masih dalam ruang lingkup pilihan-pilihan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Dan setiap pilihan ini ada Qadarnya. Qadarnya juga mempunyai Qadha-Qadha lain di dalamnya.
Apabila kita hendak memilih, kita bertanya pada Allah pilihan yang terbaik di sisi Allah. Setelah kita memilih berdasarkan gerak hati dan juga berupa bisyarah, atau bahkan juga mungkin ada bahasa alam, kita memohon dengan sepenuh hati agar Allah memudahkan Qadar-Qadar ke atas Qadha yang kita telah pilih tadi. Semua pilihan dari Allah, dan kita serahkan kembali pada Allah untuk memberikan petunjuk agung-Nya terhadap pilihan yang terbaik karena kita tidak tahu yang mana yang paling terbaik di sisi Allah buat kita.
Apa-apa yang terjadi setelah kita memilih, percayalah itulah yang terbaik di sisi Allah buat kita karena kita telah berdoa dan bermunajat memohon petunjuk dari-Nya. Inilah maksud dari firman Allah bahwa setiap permohonan pasti dikabulkan oleh Allah. Maka meskipun sesuatu itu buruk dari pandangan kita, insyaAllah pasti banyak kebaikan di ujungnya. Inilah hebatnya Islam yang mengatur hidup dan kehidupan kita dengan begitu sempurnanya, lalu nikmat Tuhan manakah yang masih berani kita dustakan? Give thank’s to Allah, Allahu Akbar…

Setiap apa yang kita lakukan merupakan pilihan.
Karena hidup adalah pilihan.
Tapi sesuatu yang terbaik menurut kita,
belum tentu terbaik menurut Allah.
Karena hidup adalah pilihan.
Tapi sesuatu yang terbaik menurut kita,
belum tentu terbaik menurut Allah.
Banyak di antara kita mempunyai hajat sebagai contoh ingin menjadi kaya dan kita merasa itu adalah yang terbaik bagi kita. Setiap hari kita bekerja dan berusaha ke arah itu dengan harapan hajat menjadi kaya itu menjadi kenyataan. Kita melakukan berbagai cara untuk memotivasi diri kita ke arah itu. Kita juga melakukan ibadah seperti shalat malam, bersedekah dan sebagainya dengan harapan Allah mengabulkan hajat kita. Pernahkah kita berpikir, banyak doa dan munajat kita kepada Allah yang tidak dikabulkan? Akhirnya amalan ibadah kita menjadi kurang dari hari ke hari karena kita merasa penat melakukan ibadah tetapi hajat masih tak kunjung dikabulkan. Atau mungkin sudah dikabulkan tetapi ibadah kita semakin berkurang karena apa yang kita hajati sudah dikabulkan.
Mengapa begitu?
Di setiap hajat dan keinginan kita, pernahkah kita memohon kepada Allah dan bertanya kepada Allah, apakah yang kita inginkan itu merupakan yang terbaik untuk kita dan terbaik di sisi Allah? Apabila kita memilih untuk menjadi kaya atau sebagainya, apakah keinginan itu terbaik untuk kita dan terbaik di sisi Allah? Apakah ia cuma terbaik bagi kita tetapi sebenarnya tidak terbaik di sisi Allah. Jikalau itu tidak terbaik di sisi Allah, maka sudah pasti apabila kita menjadi kaya, kita akan melupakan Allah. Allah Maha Mengetahui apa yang berlaku di masa depan kita. Namun disebabkan itu adalah pilihan kita dan Allah mengizinkan, maka walaupun perkara itu tidak baik di sisi Allah, kita tetap dapat apa yang kita hajati tetapi malangnya ia bukanlah terbaik di sisi Allah.
Apabila kita kuat beribadah dan berdoa serta memohon kepada Allah dengan harapan hajat kita dikabulkan, maka ibadah kita hanya disebabkan hajat kita. Bukan karena cinta pada Allah. Kita bersusah payah dan bersungguh-sungguh melakukan ibadah tetapi malangnya semua itu bukanlah karena cinta pada Allah tetapi karena hajat kita semata. Oleh karenanya, sebelum kita melakukan sesuatu, memohonlah kepada Allah. Istikharahlah, apakah yang kita lakukan itu terbaik di sisi Allah atau tidak? Apakah segala hajat dan keinginan kita itu terbaik di sisi Allah? Jika tidak, kita mohon agar Allah menghilangkan rasa keinginan itu lalu kita tidak lagi memohonnya.
Memang benar, hidup adalah pilihan. Setiap apa yang kita lakukan merupakan pilihan. Sobat membaca mutiara ini merupakan satu pilihan, ingin dibaca hingga selesai atau tidak pun merupakan satu pilihan. Makan atau tidak, juga pilihan. Segalanya adalah pilihan. Tapi tidak ada siapapun –termasuk diri kita- yang mengetahui masa depan terbaik buat kita, melainkan hanya Allah. Mohonlah yang terbaik dari Allah. Dan setiap yang kita inginkan, pastikan juga terbaik di sisi Allah. Bagaimana cara untuk mengetahui apakah sesuatu itu terbaik di sisi Allah? Caranya adalah KOMUNIKASILAH SETIAP SAAT DENGAN ALLAH. Allah akan menguatkan gerak hati kita dan juga Allah akan memberi bisyarah, atau berupa petunjuk melalui bahasa alam, insyaAllah.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang
yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna
dengan cara yang sempurna.
Jikalau kita memancing ikan, setelah ada ikan yang terperangkap di mata kail, hendaklah kita segera mengambil ikan itu. Janganlah sesekali kita melepaskan ia seperti semula ke dalam air begitu saja. Karena ia akan sakit oleh karena ketajaman mata kail kita dan mungkin ia akan menderita selama ia masih hidup.
Begitu juga…
Jikalau kita memberi harapan kepada seseorang, setelah ia menerima dan mulai menyayangi kita, hendaklah kita menjaga hatinya. Janganlah sesekali kita meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang masuk akal. Karena dia akan terluka oleh kenangan harapan dari kita dan mungkin dia tidak dapat melupakan segalanya selama dia mengingat kita.
Jikalau kita telah memiliki sepiring nasi yang baik untuk diri kita, mengenyangkan dan berkhasiat. Mengapa kita lengah dengan mencoba mencari makanan lain yang tampak lebih enak? Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kita tidak bisa memakannya lagi. Kita akan menyesal.
Begitu juga…
Jikalau kita telah bertemu dengan seseorang yang akan membawa kebaikan kepada diri kita, shalih atau shalihah. Mengapa kita lengah dengan mencoba membandingkannya dengan yang lain? Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kita akan merasa kehilangan apabila dia telah dipilih dan menjadi milik orang lain. Kita juga yang akan menyesal.