Tentang (Rahasia) Wanita

...Janganlah hanya melihat betapa cerdasnya Imam Syafi'i,
betapa bijaksananya Umar bin Abdul Aziz, dan tokoh-tokoh agung lainnya.
Tapi lihatlah dulu, siapa ibunya...
...Janganlah pula hanya melihat betapa bejatnya si fulan,
betapa jahatnya si fulin, dan tokoh-tokoh busuk dan buruk lainnya.
Tapi lihatlah juga, siapa ibunya...
[Oleh karenanya, janganlah mencari Istri
TETAPI carilah Ibu untuk anak-anak kita]

Ada sebuah hadits dari Imam Ja'far ash-Shadiq yang diriwayatkan oleh al-Allamah al-Faidhul Kasyani dalam tafsirnya ash-Shafi di tengah perbincangan tafsir dari firman Allah swt. yang berbunyi, "...Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana..." (QS. Ali Imran: 6). Dalam hadits itu diceritakan tentang dua malaikat yang mendatangi janin yang berada di perut Ibunya, lalu keduanya meniupkan ruh kehidupan dan keabadian, dan dengan izin Allah, keduanya membuka pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota badan, serta seluruh yang terdapat di perut. Kemudian Allah mewahyukan kepada kedua malaikat itu, "Tulislah qadha, takdir, dan pelaksanaan perintahku, dan syaratkanlah bada' bagiku terhadap yang kamu tulis." Kedua malaikat itu berkata, "Wahai Tuhanku, apa yang harus kami tulis?" Maka, Allah Azza wa Jalla menyeru keduanya untuk mengangkat kepala keduanya di hadapan ibunya, sehingga mereka mengangkatnya. Tiba-tiba terdapat layar (lauh) terpasang di dahi ibunya, maka kedua malaikat itu menyaksikannya dan menemukan pada layar tersebut bentuk, hiasan, ajal, dan perjanjiannya, sengsarakah atau bahagiakah serta seluruh perkaranya.



Kandungan riwayat di atas sesuai dengan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas'ud yang berbunyi, "Orang yang sengsara adalah yang sengsara di dalam perut ibunya dan orang yang bahagia adalah yang bahagia dalam perut ibunya." Maksudnya adalah bahwa seorang anak mendapatkan dasar-dasar kesengsaraan dan kebahagiaan pada pertumbuhan pertama di perut ibunya. Hukum keturunan di samping memindahkan sifat-sifat bentuk tubuh dan fisik dari ibu pada anak, juga sifat-sifat moral/akhlak dan spiritual dari ibu berpindah pada janin sewaktu berada di perut ibunya. Sehingga di perut Ibu itulah tergambar jelas calon Pembela Islam, Pejuang Syariah dan Khilafah, Ilmuwan Muslim, Koruptor, Penipu, Pemimpin dzalim, dan sebagainya yang nantinya mempengaruhi sebuah Peradaban.

Secara ilmiah telah jelas,(karena penekanan di awal catatan adalah seorang Ibu, maka objek pembahasan selanjutnya adalah seorang Ibu, meski tidak menafikkan peranan seorang ayah), betapa hukum keturunan berpengaruh dalam memindahkan sifat-sifat ibu kepada anak melalui gen-gen turunan. Dalam buku Prinsip-prinsip Ilmu Genetika, Mahdi Ubaid mengatakan bahwa di dalam setiap (sperma pria dan) sel telur wanita terdapat inti atom yang mengandung 24 kromosom, yang masing-masing kromosom memuat satuan-satuan hidup mencapai seratus satuan atau lebih, yang dinamakan Gen. Gen merupakan satuan terkecil pada materi yang hidup, yaitu satuan-satuan turunan. Masing-masing gen mempunyai tugas khusus menentukan perkembangan individu, bentuk eksternalnya, dan perilakunya. Terdapat gen-gen yang berpengaruh terhadap warna mata, yang berpengaruh terhadap warna kulit, yang mempengaruhi bentuk badan, besarnya, atau kecerdasannya. Dengan demikian, gen keturunan memiliki peranan penting dalam kehidupan anak, yaitu turut serta dalam memberikan identitas yang independen pada anak, yang membedakannya dengan yang lain.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa hubungan keturunan juga memainkan peranan yang sangat penting dalam melakukan aktivitas pemindahan sifat batin internal, yang memiliki pembawaan moral dan spiritual, yang selanjutnya pengaruhnya tidak terbatas pada pembentukan ciri-ciri jasmaniah lahiriah anak saja. Inilah yang, barangkali, dimaksud dengan firman Allah swt.:
"...Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur..."
(QS. al-A'raf: 58)
Maka, dalam kitab al-Mustathraf dinukil sabda Rasulullah saw. yang mengatakan, "Lihatlah kepada siapa kamu meletakkan nutfah (sperma) kamu, karena sesungguhnya asal (al-Irq) itu menurun kepada anaknya." Terdapat kesesuain antara yang diperbincangkan oleh ilmuwan bahasa Arab tentang arti al-Irq dengan yang dibicarakan oleh ilmuwan biologi dan genetika tentang gen-gen yang menurun, yaitu atom-atom yang mempunyai satu sel tadi.

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa hukum keturunan memainkan peranan yang penting. Ibu yang baik-baik tentu akan menurunkan gen yang baik-baik pula pada anak. Sedang Ibu yang buruk-buruk, dia juga akan mewariskan gen yang buruk-buruk pula.

Sungguh pun demikian, seperti yang ditegaskan oleh Husain Mazhahiri -seorang pakar muslim dalam pendidikan anak- hukum keturunan bukanlah sebab mutlak. Maksudnya, hukum keturunan tidak berlaku mutlak; bahwa jika ibunya adalah pendosa, misalnya, maka anaknya secara otomatis akan menjadi pendosa; bahwa apabila ibunya adalah seorang muslimah yang shalihah, maka anaknya secara otomatis akan menjadi shalih-shalihah. Dalam kenyataannya, anak seorang pendosa pun bisa menjadi baik dan bermoral terpuji. Begitu pula sebaliknya, anak orang baik-baik bisa tumbuh menjadi penjahat yang meresahkan dunia.

Sampai di sini, kiranya menjadi jelas bahwa apabila seorang Ibu semasa kehidupan mudanya sering melakukan perbuatan dosa dan maksiat, maka potensi yang amat besar terjadi pada anak-anaknya untuk tumbuh dan berkembang sebagai pendosa dan ahli maksiat. Dan yang diwariskan oleh seorang Ibu adalah gen, bukan dosa. Dosa hanyalah perbuatan yang dikerjakan yang bertentangan dengan ajaran agama. Seorang Ibu yang melakukan dosa dan maksiat, tentu akan dihukumi dosa. Begitu pula, anak yang melakukan dosa dan maksiat, tentu akan dihukumi dosa pula. Ini tidak berarti -sebagaimana konsep dosa waris ajaran kristen- bahwa dosa itu diturunkan atau diwariskan. Dosa adalah bagi si pembuat dosa itu sendiri.

Dan, karena hukum keturunan tidaklah berlaku secara mutlak, maka apabila Seorang Ibu memiliki riwayat hidup sebagai pendosa dan ahli maksiat, yang hal ini sangat berpengaruh pada anak-anaknya, tetapi anak-anaknya tetap memiliki potensi untuk tidak menjadi pendosa dan ahli maksiat seperti Ibunya. Lewat lingkungan dengan disiplin pendidikan dan pembinaan yang baik dan benar dalam menapaktilasi jalan-jalan yang lurus, sang anak bisa mengenyahkan kecenderungan untuk berbuat dosa dan maksiat. Namun, tentu anak tersebut menghadapi kendala yang amat sulit jika dibandingkan dengan anak yang lahir dari Ibu yang baik-baik.
"...Seseorang akan mengikuti agama teman akrabnya (di lingkungan sekitarnya), oleh sebab itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa teman akrab kalian." 
(HR. Imam Abu Daud)
0 Responses

Posting Komentar

  • Berlangganan

    Sahabat yang ingin mutiara-mutiara ini langsung terkirim ke Email Sahabat, silahkan masukkan Email disini:

    Kacamata Dunia

    free counters